Sabtu, 09 Maret 2013

LANGIT JINGGA & SESEORANG

foto diambil dari tumblr;)


Naila membolak-balikkan buku pelajarannya dengan gemas. Sudah setengah jam yang lalu ia berkutik dengan satu soal ke satu soal yang lain. Mencari dari satu sumber hingga kesatu sumber yang lain. Namun, sudah setengah jam yang lalu juga soalnya belum selesai setengah. Padahal, tugas yang lain masih menunggu untuk di sentuh. Naila di buat frustasi karenanya.
        Jadi, Naila memilih untuk menyerah saja. Ia menutup semua buku pelajarannya, lantas mengambil sebuah novel karangan C.S Lewis –pengarang favoritnya– yang tergeletak dari setengah jam yang lalu. Ini saatnya untuk mengistirahatkan sebentar otak kirinya, dan membiarkan otak kanannya menarik nafas.
     Ketika Naila sedang terbius oleh deretan kata dan masuk dalam dunia fantasinya, seseorang mengguncang bahunya pelan, membuat Naila terpaksabangun dari imajinasinya.
           “Gue mau ngomong sama lu,” kata seseorang itu. Yang tak lain adalah Acha, teman kelas sebelah.
           “Ya ngomong aja. Ada apa?” jawab Naila santai, sambil menutup novelnya.
           “Lu berubah,” kata Acha lagi. singkat, padat, dan sangat jelas.
           Tapi Naila mengerutkan kening. Menuntut penjelasan sampai titik penghabisan.
           “Gue dan yang lain kehilangan diri lu yang dulu, Nai.”
          Naila menarik nafasnya berat. Lagi-lagi masalah yang menurutnya kecil, tapi di besarkan oleh semua temannya. “Terus?” hanya itu respon yang Naila beri, sehingga membuat Acha tak mengerti.
           “Ya gak terus-terus. Kita kangen elu Nai. Sebelum lu sesibuk ini,”
           “Gue pun kangen diri gue yang dulu, Cha. Tapi gue gak bisa ninggalin realitas.” Naila berucap lirih.
           “Gak adakah waktu dari lu buat kita?”
           “Belum, Cha.” Naila membereskan semua bukunya. Memasukkannya ke dalam tas, “maaf, Cha. Gue duluan. Masih harus beresin buku di perpus. Salam buat yang lain.” Ia segera berlalu, meninggalkan Acha yang masih diam disitu.
           Sebenarnya, tak ada buku yang harus di bereskan, Naila hanya menghindar. Ia hanya tak ingin segala masalah yang ada bertambah panjang. Karena terkadang, berlari menghindari memang lebih baik daripada bertarung melawan emosi.
          Naila terduduk lesu di pojokan perpus, tempat favoritnya. Ia kembali mengambil novelnya, mencoba terlarut bersama deretan kata. Namun, lagi-lagi kegiatannya harus terhenti ketika otaknya memutuskan untuk memikirkan masalah yang baru saja di utarakan Acha.
       Acha benar. Ia sudah lama tidak berkumpul dengan teman-temannya. Ini karena kesibukan yang menuntut untuk tak di biarkan. Hampir setiap hari Naila harus belajar sampai jam enam petang, dan di lanjutkan dengan mengerjakan tugas. Selesai mengerjakan tugas, ia segera pergi tidur. Benar-benar tak ada waktu untuk meninggalkan rutinitas. Kalaupun ada waktu luang, Naila menggunakannya untuk beristirahat. Untuk bersenang-senang dengan dunianya dan meninggalkan rutinitas. Jadi wajar, jika teman-temannya juga meminta waktunya.
         Tapi di sisi lain, Naila harus memproitaskan hal mana yang harus dia kerjakan duluan. Dan bermain, selalu di urutan terakhir. Lagipula, sejak semester kemarin Naila sudah tak memikirkan hal-hal yang membuang waktu. Ia lebih memilih untuk mengerjakan rutinitasnya, walaupun terkadang itu membuatnya jenuh. Dan hanya dengan membaca, kejenuhannya terobati.
         Naila tak tahu lagi apa yang telah dan harus ia perbuat, sampai-sampai matanya panas. Kemudian, setetes demi setetes air mata turun bersama kekosongan yang menyergap hatinya.
         “Kenapa?” seseorang menarik kursi di depan Naila. Membuat Naila tersentak sebentar, kemudian menangis lagi.
            “Yaudah nangis aja dulu,” kata seseorang itu lagi sambil membolak-balikkan majalah di tangannya.
        Setelah beberapa saat, Naila menyurutkan air matanya. Seseorang itu masih disana, tenggelam bersama majalah yang sedang di bacanya. Tak menuntut Naila untuk bercerita, hanya menemaninya saja disana. Dalam diam.
        “Sudah, Kak.” Naila membuka pembicaraan.
        “Sudah siap cerita?” seseorang itu berkata sambil menyerahkan sapu tangan miliknya.
     Naila tersenyum dan mengambil sapu tangan yang di berikan. Seseorang di depannya ini selalu tahu bagaimana membuat hatinya tenang. “Aku cape, Kak.” kata Naila lirih.
        “Sudah kuduga. Apalagi kali ini? Tentang orang rumah lagi?”
        Naila menggeleng.
        “Lalu?”
       “Teman-teman. Mereka bilang aku berubah. Mereka bilang aku gak punya waktu lagi buat mereka. Tapi aku kayak gini kan karna ada alasannya,” Naila menarik nafas sebentar takut ia menangis lagi.
          “Terus yang buat kamu nangis itu apa?”
       “Aku gak tahu kali ini siapa yang salah. Aku yang terlalu sibuk atau mereka yang gak mau ngerti. Entahlah,” lanjut Naila lagi.
          “Namanya juga cewek, suka labil sendiri sama masalahnya. Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan,” kata seseorang itu sambil mengangkat bahu.
          Naila melotot. Namanya juga cowok, selalu saja menanggap enteng setiap masalahnya. Umpat Naila dalam hati.
          “Ada saatnya dimana kamu harus ngalah sama rutinitas kamu, Nai.” Seseorang itu melanjutkan, seolah bisa membaca apa yang di pikirkan Naila.
          “Gak bisa, Kak. Gak semudah itu.”
         “Berhentilah mengeluh. Coba sedikit demi sedikit. Aku tahu kamu sibuk dengan segala rutinitasmu itu, tapi teman-temanmu juga kangen kamu, Nai. Emang kamu gak kangen mereka?” seseorang itu menutup majalahnya, melipat tangannya di atas meja, dan memerhatikan Naila lekat-lekat.
        “Aku gak tahu. Rutinitas ini buat aku lupa segalanya, Kak. Kalaupun ada waktu luang, aku pengen melakukan hobiku yang sempat aku abaikan. Mengertilah, Kak.”
        “Debat sama kamu emang gak pernah ada ujungnya, Nai.” Seseorang itu menarik nafas. Kemudian berdiri, mengulurkan sebelah tangannya yang disambut lagi oleh Naila.
          “Mau kemana?” tanya Naila.
          “Ke tempat favorit kita,” jawab seseorang itu.
***
          Langit sudah berganti warna dengan cahaya jingga yang membias kesana-sini. Naila menatap altar luas di atas sana, sambil sesekali tersenyum.
          “Bilang apa?” seseorang itu membuat Naila menoleh sambil mengerutkan kening.
          “Apanya?” kata Naila.
       “Setidaknya disini kamu melupakan sebentar masalahmu, kan?” kata seseorang itu lagi sambil tersenyum, menatap mata Naila lagi.
       Naila ikut tersenyum. Seseorang ini benar, disini ia temukan kedamaian. Meninggalkan segala rutinitasnya, masalahnya, bahkan hobinya hanya untuk menghitung detik-detik langit berganti warna menjadi jingga, kemudian menjadi gelap begitu saja. Naila temukan dunianya disini. Bersama seseorang yang tak pernah memberikan solusi untuknya, tapi terus memberikan ketenangan untuk hatinya. Singkat, Naila jatuh cinta dengan....semuanya.
             “Makasih, Kak.” Kata Naila yang kemudian menggenggam tangan seseorang itu.
           “Ya, Nai. Sama-sama. Sudah ya, jangan dipikirkan. Setiap masalah pasti ada jalan keluar,” jawab seseorang itu dengan balas menggenggam tangan Naila.
            Lalu mereka melanjutkan menghitung detik-detik langit berganti warna menjadi jingga, dan menjadi gelap begitu saja.

Jum'at, 08-03-2013
23:22

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/tips-cara-supaya-artikel-blog-tidak.html#ixzz2NEfURgcc