Senin, 05 November 2012

Tuhan Kapan Aku Bahagia?

Ini untuk seseorang yang diluar sana. Siapa saja.


Riska menyeruput teh hijaunya sekali lagi. Pandangannya keluar, tidak benar-benar memperhatikan apa yang ada disana. Pikirannya tak terfokus, kecuali pada persoalan  itu. Satu nama dihatinya. Tanggal unik ditelinganya. Dan kenangan pahit-manis dimatanya. Mereka begitu bercabang, membuat Riska ingin berteriak, menangis, bahkan marah pada waktu yang sama. Andai saja waktu dapat  ia putar, ia lebih memilih untuk tidak menunggu pelangi setelah hujan. Untuk apa berharap jika hanya terbalaskan rasa kecewa? Untuk apa menunggu jika akhirnya hal yang ditunggu pun pupus? Untuk apa Riska melakukan semuanya hanya demi seseorang yang bahkan tak pernah mencoba untuk merawat hatinya? Untuk apa pengorbanannya? Membuahkan hasilkah? Membuatnya bahagiakah? Mungkin saat ini tidak. Dan selamanya akan tetap menjadi tidak.
            “Mau sampai kapan lo kayak gini terus? Diem nunggu kebahagiaan jemput lo. Kebahagiaan itu dicari, bukan ditunggu.” Ara mengampiri, dengan bunga mawar ditangannya.
            Riska tersenyum, pahit. Sahabatnya ini bahkan dapat bangkit setelah jatuh berkali-kali, “lo gak tau apa yang sebenarnya gue rasain Ra.”
            “Gak mungkinlah gue gak ngerasain. Gue sama lo udah dari SMP. Dan lo stuck di persoalan yang sama. Bertahun-tahun. Tanpa terbalaskan.”
Riska menarik nafas, berat.                                                                                                    
“Liat, lo liat mereka yang disana.” Ara menunjuk dua pasang remaja yang sedang berbagi kebahagiaan. Mereka tersenyum bahkan sesekali tertawa lepas saat mendengar salah satunya selesai bercerita. “Mereka gak akan  kayak gitu kalau mereka gak nyiptain kebahagian mereka sendiri, Ris.”
“Gue pernah kayak gitu. Cerita bareng, ketawa bareng, makan bareng, sama Rafa. Gue bahkan bisa lebih bahagia dibanding mereka waktu gue sama Rafa. Gue dulu bahagia.”
“Pernah. Dan itu pun dulu. Sekarang? Gak pernah tuh gue liat lo bahagia.”
“Ya itu karena yang nyiptain kebahagiaan gue pun udah gak ada.”
“Itu karena lo gak mau nyari yang nyiptain kebahagiaan lo lagi. Sampe kapan nyalahin keadaan? Please berhenti liat Rafa yang udah jauh disana. Dia masa lalu lo, Ris. Biarin dia bahagia dengan jalannya. Lo juga harus bahagia karena hidup lo tetep berjalan walaupun gak ada dia.”
“Lo bilang kayak gitu karna lo gak ngerasain apa yang gue rasain Ra! Lo yang harusnya berhenti buat nyuruh gue ini-itu. Semua filsafat lo itu gak berguna tau?! Selamanya gue bakal ngikutin kata hati gue, bukan kata hati lu!” Riska memukul mejanya, kemudian berlari keluar cafe dan meninggalkan Ara sendirian.
Riska terus berlari, menyusuri jalan setapak kota Perth di tengah musim semi. Harusnya ia bahagia tahun ini, menikmati beasiswanya di Universitas Westrn Australia. Beasiswa yang seharusnya menjadi pialanya, tapi bayangan Rafa seolah merebutnya.
Riska menangis diantara langkah  kakinya. Daun Maple yang berguguran seolah ikut menari ditengah air matanya. Harusnya tidak seperti ini, harusnya gue bahagia. kebahagiaan  gue harusnya ada disini. Di Australi. Di Westrn. Rafa, please. Jangan ganggu hidup gue lagi. Kalo lo mau pergi, pergi. Tapi jangan sesekali balik lagi. Lo itu semu, dan gak akan pernah jadi nyata sampai kapanpun. Lo itu abu-abu, dan gak akan pernah jadi pelangi yang warnaiin hidup gue. Pergi, Raf.... jangan taburin garam diatas bekas luka paku yang udahpernah  lu buat. peperangan itu kembali tercipta dihatinya.
“Riska, sampai kapan kamu gak lihat sekitar dan terus lihat aku?” suara Rafa tiba-tiba bergeming, tapi Riska tak peduli. Ia terus berlari, tanpa suara, tanpa arah.
“Riska, berhenti mencariku. Aku tau dulu kita bahagia, tapi  itu waktu aku masih ada. Cari kebahagiaanmu lagi Ris, bersama orang lain. Jangan siksa dirimu seperti ini terus dengan bayanganku yang tak dapat kamu  raih lagi.”
Riska berhenti. Ia membalikkan badannya, dan  menatap sosok Rafa dengan pilu. Sebuah senyum kekecewaan tersungging dibibir mungilnya, “Kamu gak tau rasanya ditinggalin Raf...”
“Aku tau. Dan aku gak akan ngelakuin ini kalo bukan Tuhan yang nyuruh. Berhenti cari kesempurnaan Ris. Berhenti salahin keadaan. Jadilah dewasa.”
“Inikah yang namanya dewasa Raf? Ketika semuanya harus dibalas dengan air mata? Kamu pergi waktu aku udah nyangka kalo Tuhan bakal nepatin janji-Nya buat ngasih pelangi setelah hujan. Kamu pergi waktu aku udah naruh banyak harapan sama kamu. Dan itu sakit Raf...”
Rafa tersenyum, berjalan mendekati Riska, “Riska, Tuhan gak mungkin ngingkarin janji-Nya. Ketika satu pintu tertutup, maka pintu lain akan terbuka. Namun terkadang, kita terlalu lama menyesali pintu yang tertutup itu sehingga tidak melihat pintu lain yang terbuka.”
“Kamu bisa bilang kayak gitu karna kamu gak tau rasanya dikecewakan setelah kita naruh harapan banyak kepada seseorang Raf. Yang kamu tau cuma, disaat orang udah percaya sama kamu, kamu justru balikin badan kamu lalu pergi. Gak peduli apa yang udah terjadi sebelumnya.”
“Riska....”
“Apa?! Sandiwarakah selama ini Raf? Haruskah akhirnya kyk gini Raf?! Kenapa kamu justru balik lagi waktu aku udah nemuin kebahagiaanku? Kalo kamu mau pergi, yaudah sana! Tapi jangan pernah balik lagi waktu aku udah nemuin kebahagiaanku tanpa kamu!”
“Gak ada yang sandiwara! Aku gak pernah salahin apa yang udah terjadi sama kita waktu itu. Aku bahagia waktu aku sama kamu. Kamu kira aku mau ninggalin kamu?!” Rafa menunduk, ia bahkan tak mengerti mengapa ketika ia ingin memberikan warna pada seseorang yang disayangnya ini, Tuhan justru mengganti skenario hidupnya.
“Aku gak pernah datang ke kehidupanmu lagi, kok. Kamu yang mengundangku bukan? Kamu sendiri yang menyeret dirimu kedalam bayanganku. Sampe kapan Ris? Kita udah beda dunia, tapi kamu tetep maksa buat terus sama aku. Sampe kapan kayak gini?! Aku bakal pergi asalkan kamu iziinin aku tenang disana Ris...”
Riska menatapnya diiringi air mata yang semakin deras. Beberapa orang mengamati mengapa Riska berbicara sendirian sambil menangis. Ara yang melihat sahabatnya seperti itu dari kejauhan, hanya bisa terdiam dan membiarkan air matanya ikut terjatuh.
“Tapi kenapa kamu pergi Rafa.... Gak cintakah kamu sama aku?”                                        
“Aku cinta kamu. Tapi, aku lebih cinta Tuhan. Tuhan yang mempertemukan kita Ris, Dia juga yang berhak buat misahin kita.”
“Kenapa harus kita?! Bukannya banyak orang diluar sana yang lebih pantas mendapatkannya?”
“karena Dia tau kalo kita kuat. Riska, cukup. Cari kebahagiaanmu lagi. disini, di Australia. Di Perth. Ini mimpimu bukan? Tanpa aku, Tuhan pasti akan memberikan pelangi itu Riska. Asal kau mau melihat dan mencarinya, bukan hanya menunggu. Berhentilah mengeluh. Dan...oh ya. Jika Tuhan tidak memberikan pelangi itu, percayalah. Akan aku minta yang lebih indah dari pelangi kepada-Nya.”
“Adakah kebahagiaan itu tanpa kamu Raf?”
“Ada. Tuhan sudah mempersiapkannya untukmu. Percayalah. Kamu berhak bahagia ada ataupun gak adanya aku. Lepaskan aku Ris. Dan lihatlah nanti, kau bahkan akan lebih bahagia dari yang kau kira. Sekarang, aku pergi dulu. Aku akan terus menjagamu dari sana. Aku mencintaimu.” Rafa tersenyum, kemudian sosoknya menghilang dari pandangan Riska.
Gadis itu jatuh terduduk, kembali menangis. Kata-kata terakhir Rafa persis seperti apa yang dikatakan Ara tadi. Ada atau tidaknya Rafa, dirinya berhak bahagia, apapun alasannya.
Ara memandang sahabatnya yang sedang tertidur pulas disebuah sofa panjang. Tadi ketika melihat Riska terjatuh, ia segera membawa sahabatnya ke apartemen mereka. Wajahnya lelah, tapi Ara tau akan ada keikhlasan dibaliknya. Ara tau, cepat atau lambat kebahagiaan akan menjeput lagi sahabatnya ini. Ah, kebahagiaan. Pilu sekali jika mendengarnya. Riska tak pernah lagi menemukannya setelah Rafa pergi. Menerima panggilan Tuhan. Ya, dua tahun yang lalu, Rafa meninggal. Kecelakaan menemaninya ketika ia ingin datang ke pesta manis tujuh belas tahunnya Riska. Waktu itu tanggal 18, tepat saat Rafa dan Rifka sudah mempersiapkan semuanya.
Ara tersenyum getir. Ia ingat waktu itu Rafa bahkan sudah memesan kado khusus untuk merayakan tanggal jadiannya. Sweeter putih dengan logo 18 kecil di kantongnya. Ia ingat dulu Rafa selalu menemukan cara bagaimana agar hubungannya dengan Riska baik-baik saja. Riska bisa tertawa, tersenyum, bahkan menangis bahagia ketika bersama Rafa. Dulu. Bersama Rafa. Sekarang, Ara kehilangan sosok sahabatnya yang ceria. Riska lebih sering murung, diam, dan menyendiri. Bahkan tak jarang Ara melihat Riska bicara seorang diri. Bila ditanya, ia selalu menjawab bahwa ada Rafa disana. Riska lebih suka menari bersama kenangan daripada bernyanyi bersama sahabatnya. Riska yang dulunya mempunyai aura warna orange, sekarang berubah menjadi abu. Tenang, tapi misterius.
“Raf...kapan balik lagi? Pergi kok lama banget,” Riska mengigau, Ara melihatnya tapi ia membiarkan sahabatnya itu. “Aku udah 2 tahun lho nunggu kamu balik. Belum seberapa sih sama yang 5 tahun itu. Tapi gimana ya Raf? Walaupun sebentar, kenangannya banyakan kamu. Kamu hebat! Hahahahaha” sekarang Riska tertawa dalam alam bawah sadarnya, sedangkan Ara menangis. Tak tega melihat sahabatnya terus seperti ini. Percayalah, ketika kau membohongi perasaanmu sendiri, itu lebih sakit daripada yang kau kira.
“Hmmm Raf,” Riska melanjutkan, “Apa ya yang aku rasain sekarang? Nangisin kamu aja kyknya aku gak mampu. Mungkin cuma sisa kenangan terindah itu dan kesedihanku. Maaf. Aku masih belum rela kamu pergi gitu aja. Tapi aku janji, seiring dengan berjalannya waktu, aku bakal cari lagi kebahagiaanku. Tanpa kamu. Kamu yang tenang ya disana.” Riska menangis. Ia selalu seperti ini, setelah tertawa, pasti menangis. Makanya, ia selalu beranggapan bahwa kebahagiaan takkan betah jika hidup bersama dirinya.
Beberapa tahun sebelumnya...
            “Ra, kata lo sweeternya bagus gak?” Rafa menunjukkan sweeter yang baru saja ia pesan kepada Ara.
            Yang dipanggil hanya menoleh sekilas, “Bagus Raf. Lo pesen dimana?”
            “Di kak Jamil. Kakak kelas gue waktu SMP. Desainnya gue yang buat loh,”
            Ara bergumam, “Lo mau nembak dia nanti malem?”
            “Iyalah, udah lama banget lagian kan kita deketnya. Kalo gak gue tembak sekarang ntar dia keburu pergi lagi.”
            “Oh. Bagus deh, akhirnya Riska dapet kepastian juga dari lo.” Ara tertawa, ikut merasakan kebahagiaan yang akan dirasakan Riska nanti. Sudah lama memang Rafa-Riska dekat., tapi sampai sekarang belum ada status yang jelas untuk mereka.
            “Hahahahaha. Iyalah Ra, gak mungkin gue terus-terusan ngasih harapan tapi gak ngasih kepastian buat dia. Tapi Ra, pas banget ya? Nama gue sama dia kan dari R terus sekarang tanggal 18 pula. R itu huruf ke 18 kan? Mana sekarang Riska ngerayain hari bahagianya lagi.” Rafa tersenyum, ia bahkan baru sadar kalau semuanya seolah bersambung. Semoga ini awal yang baik untuk menjalani hidupnya bersama Riska.
            Ara diam sejenak, kemudian ia tertawa,“Yayaya. Yaudah, gue pulang dulu ya. Mau ke salon sama Riska. Good luck buat ntar malem. Gue tunggu pajaknya ya,” Ara kemudian berjalan keluar menuju teras rumah Rafa.
            “Siaaaaap!!! Thanks ya Ra.”
            Itu yang terakhir. Malamnya, Ara mendapat telfon bahwa Rafa kecelakaan saat di perjalanan menuju rumah Riska. Motornya ditabrak mobil truk pengangkut barang. Rafa terseret dan mengalami pendarahan besar. Dokter sudah berusaha untuk mendapatkan darah yang sama dengannya dan melakukan pertolongan sebaik mungkin. Tapi, apa daya umur Rafa memang hanya 19 tahun.
Pesta Riska malam itu memang tetap berjalan, tapi dengan pandangan kosong Riska. Ia shock sampai tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya duduk dan sesekali tersenyum pada semua temannya. Ara tau, Riska berusaha untuk tegar, namun tatapannya yang kosong tak dapat memanipulasi Ara.
“Ra...” Riska membuka matanya. Ia tak ingat sudah berapa lama ia tertidur.
“Ya?”
“Tadi gue ketemu Rafa.” Riska menghela nafasnya, tetapi kemudian ia tersenyum. “Maafin gue Ra, harusnya gue sadar selama ini omongan lu bener. Gue gak boleh terus-terusan liat Rafa yang udah milih jalannya sendiri. Gimanapun juga, dia masa lalu gue.”
Ara terenyuh, ia bahkan nyaris meneteskan air matanya kembali. “Ris,” ia mengelus pundak sahabatnya itu, “Gue tau setiap orang berhak atas masa lalunya. Tapi bukan berarti masa lalu terus dibandingin sama masa kini, Ris.”
“Iya. Makasih ya Ra. Sekarang gue sadar, selama ini gue belum dapetin kebahagiaan gue karena gue belum ngerelain Rafa sepenuhnya. Bukannya kalau kita ngerelain sepenuhnya, kita bakal dapet yang lebih baik? Lagian, gak ada ruginya juga kan ngelepasin yang baik demi yang terbaik?”
Ara tak menjawab, ia hanya tersenyum. Kemudian memeluk sahabatnya itu. Tuhan, tolong ini pelukan yang memberikan tanda bahwa Riska akan menemukan kebahagiaannya lagi. Tuhan, beri kekuatan agar ia dapat mengikhlaskan masa lalunya. Dan beri yang terbaik atas perjuangannya. Tuhan, aku hanya ingin melihat sahabatku bahagia dengan jalannya sendiri. Tanpa bayang masa lalunya yang tak dapat ia genggam lagi. Tuhan, untuk yang terakhir. Terima kasih, karena Kau telah mempertemukan kami untuk saling menguatkan satu sama lain. Tuhan, aku sayang Riska. Jaga dia Tuhan. Damaikan hatinya. Dan selamatkan hidupnya. Amin.

Juli, 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/tips-cara-supaya-artikel-blog-tidak.html#ixzz2NEfURgcc