Senin, 04 Februari 2013

KUNCI UNTUK SHILA

KUNCI UNTUK SHILA

Kata Kakak, bahagia itu sederhana.
            Namaku Camelia Jelita, umurku baru menginjak 10 tahun. Aku belum mengerti betul apa itu sederhana –saat aku tanya pada Ayah, beliau bilang sederhana berarti tidak berlebih-lebihan; merasa cukup. Jadi, aku ambil kesimpulan bahwa bahagia yang sederhana adalah kebahagiaan yang dicapai melalui hal-hal kecil.
            Sampai akhirnya, aku bertemu dengan Shila.
            Shila adalah tetangga baru sebelah rumah. Umurnya sama denganku. Tetapi, dia berbeda dengan anak-anak lain. Saat kami semua bermain di luar rumah, Shila hanya duduk di depan teras dengan buku dalam genggamannya. Pernah waktu itu aku melihatnya sedang menulis, atau ketahuan sedang tersenyum melihat kelakuan teman-temanku.
            Saat aku tanya pada Kakak mengapa ia tak pernah keluar rumah, kakak bilang Shila menutup diri. Lagi-lagi aku tidak tahu apa artinya itu, tapi aku bermaksud mencari kuncinya. Jadi, saat kalender menunjuk pada tanggal 2 Agustus, sore harinya aku mengajak Ibu ke rumah Shila.
            Rumah Shila tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Pagarnya berwarna abu dengan cat rumah senada. Ibu mengetuk pintu depan dengan aku yang berada disampingnya.
            Saat pintu dibuka, tampak seorang wanita cantik berdiri disana. Dengan keriput yang menghiasi wajah, ia tersenyum pada Ibu dan mempersilahkan kami masuk.
            “Amel, itu Shila. Kamu main gih sama dia.” Suruh Ibu seraya menunjuk ke arah gadis kecil yang sedang duduk bersama boneka-bonekanya.
            Aku mengangguk kecil. Lalu berjalan ke arah Shila.
            “Aku Amel. Rumahku di sebelah rumahmu,” aku mengulurkan tangan, memperkenalkan diri duluan.
            Tak ada respon dari Shila selama beberapa menit, sebelum akhirnya dia membalas uluran tanganku dan tersenyum –memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
            Tiba-tiba Shila bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah meja telepon. Diambilnya secarik kertas dan menuliskan sesuatu disana. Setelah itu, dia memberikan kertasnya padaku. Tertulis disana:
            Aku Shila. Senang berkenalan denganmu. Maaf aku harus menulis dulu saat kita ingin bicara. Yuk, kita main boneka sama-sama!
            Aku melihat kearahnya. Dengan Shila yang memberikan sebuah boneka beruangnya padaku.
            Saat aku ingin bertanya –mengapa ia tak bicara saja– telingaku menangkap samar topik pembicaraan Ibu dengan Tante Kia, mamah Shila.
            “Saya dengar, Shila suka menulis. Apa yang membuatnya mempunyai hobi itu?” tanya Ibu.
            Helaan nafas berat terdengar dari bibir Tante Kia, “Shila bisu sejak lahir. Jadi hanya tulisan yang dapat ia jadikan perantara untuk mengungkapkan perasaannya.”
            Kini giliran Ibu yang menarik nafas beratnya.
            Saat itu juga aku mengerti apa arti menutup diri dan alasan mengapa Shila harus menulis dulu jika kami ingin bicara.
            Ia bisu.
            Untuk arti kata yang satu ini, aku tak perlu mencari tahu. Aku pernah menonton film bahwa orang yang bisu tak dapat bicara. Dan sekarang orang itu benar-benar ada di depanku!
            Mungkin, kebisuan Shila membuat dirinya malu untuk bermain bersama anak-anak lain. Sehingga, ia hanya duduk di teras rumahnya sambil sesekali tersenyum. Mungkin, Shila iri pada kami. Ia takut untuk tak mendengar tawanya seperti kami mendengar tawa kami. Ia terlalu takut untuk mendengar dunia yang menertawakan kebisuannya. Satu perbedaan fisik telah menjadikannya benar-benar berbeda.
            Ku tatap wajah manis di depanku ini. Sadar sedang diperhatikan, Shila menatap balik ke arahku. Kemudian ia tersenyum. Mengayunkan tangan bonekanya, menuntut agar permainan segera di mulai. Aku menurut saja. Tanpa suara, kami bermain bersama.
            Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam. Adzan Magrib pun telah berkumandang menyerukan panggilan. Ini waktunya pulang. Aku pamit pada Shila dan berkata padanya bahwa besok aku akan berkunjung lagi. Matanya berbinar sekali waktu itu, diikuti Tante Kia yang tersenyum simpul.
            Di perjalanan pulang, aku bergumam sendirian, “Benar kata Kakak, bahagia memang sederhana. Mencoba mencari kunci diri untuk Shila sehingga ia tak takut lagi pada dunia, contohnya.” dengan kakiku yang melengang riang sampai masuk rumah.
            Aku segera ke kamar dan menceritakan pertemananku dengan Shila pada buku harian.
            Tanganku mulai menari disana.

Minggu, 03 Febuari 2013.
22:36

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/tips-cara-supaya-artikel-blog-tidak.html#ixzz2NEfURgcc