Kamis, 02 Mei 2013

RAIN FALL


RAIN FALL
Selalu ada alasan bagi setiap hati yang bertahan


            Namanya Erika. Siswi sekolah tingkat atas yang sebentar lagi akan melepas seragam putih abunya. Ia pintar, pandai berbicara, dan terkenal. Tak hayal banyak laki-laki yang mengincarnya –dan sayangnya, Erika tetap pada pilihan hatinya: laki-laki itu.
            Namanya Leo. Siswa sekolah tingkat atas yang setahun lagi menyelesaikan proses belajarnya. Lain dengan Erika, Leo bersifat penyendiri. Ia jarang terlihat mengobrol dengan teman sebayanya –Leo lebih suka berlari mengejar imajinasinya lantas kemudian bersembunyi di balik kata-kata. Sayangnya, Leo tak pernah tahu bahwa ada seseorang yang selalu ingin menemaninya.
            “Gak bosen emang bertahan pada dia yang bahkan tak tahu keberadaanmu?” suatu kali –ketika Erika sedang diam-diam mengamati Leo– hatinya berbisik.
            Erika ingin menggeleng tapi tenaga tak mendukungnya sama sekali. Ia hanya menunduk, mendengarkan keluhan hatinya yang terkutuk.
            “Apa yang mau kamu harapkan dari seseorang yang selalu kau pandang dalam diam?” hatinya mendengus, “kamu cantik Erika. Ada yang lebih pantas mendapatkan hatimu itu!”
            “Cinta tak perlu alasan, bukan?” Erika mulai memberontak. Walaupun sebenarnya, membohongi hatinya sendiri adalah pekerjaan yang mustahil ia akan menang.
            “Selalu ada alasan bagi setiap hati yang ingin dimiliki,”
            Erika kini mengangguk, membenarkan kata hatinya. ia menyukai laki-laki itu dalam diam, dan itulah alasan mengapa dirinya bertahan.
            “Kapan mau merelakan dia?”
            Bodoh. Mengapa hatinya bertanya seperti itu? “Terkadang, kita harus memperjuangkan apa yang harus di pertahankan. Dan bertahan tak harus melulu mendapatkan kebahagiaan,” jawab Erika.
            “Tapi kamu memperjuangkan dia?! Ah bodoh! Melihatmu saja dia tidak. Bagaimana ingin menghargai perjuanganmu itu?”
            Erika ingin menangis sekarang, saat hatinya benar-benar memberontak. Saat hatinya menyuruhnya untuk melihat orang lain yang “lebih pantas” dia perjuangkan. Tapi bagaimana jika dirinya sendiri bertahan pada alasan yang sama?
            “Jangan buang waktumu, Erika...” hatinya berkata. Lirih sekali.
            Erika hanya beranjak. Tak ingin lagi berdebat.
            “Kak Rika!” seseorang memanggilnya.
            Erika menoleh kebelakang dan terbelalaklah dia. Lensanya memotret senyum manis Leo lengkap dengan tindakan Leo yang sangat sederhana: “ini jangan ditinggal-tinggal. Nanti kalau hilang, nyesel loh.” Katanya seraya menyerahkan sebuah i-Pod milik Erika.
            “Makasih, Leo.” Hanya itu responnya. Ia sedang mengatur degup jantungnya sendiri yang bisa saja terdengar oleh Leo karena terlalu kencangnya.
            Dari tempatnya, Leo mengangguk sambil tersenyum kikuk. Ia sedang mengatur degup jantungnya sendiri ketika berad dengan Erika seperti ini. Leo bahkan lupa kapan terakhir kali hatinya susah di atur begini.
            Kemudian mereka berpisah: Leo kembali ke perpustakaan dan Erika ke kelas. Tanpa mereka sadari, kedua hati mereka ikut tersenyum. Pada dasarnya, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi senlanjutnya pada hati yang (ternyata) diam-diam saling mengagumi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/tips-cara-supaya-artikel-blog-tidak.html#ixzz2NEfURgcc