Selasa, 01 Januari 2013

Deret Kata untuk Anak-Anak Palestina

CINTA 
 
            Kesya lantas mematikan televisi yang sedari tadi berteriak tentang nasib anak-anak Palestina. Semakin lama ia semakin muak dengan tingkah laku tentara Israel –yang menurutnya sudah diluar akal sehat manusia. Bagaimana bisa? Dengan mudahnya orang-orang  jahat itu merenggut hak anak yang bahkan takkan pernah tau apa salah mereka sampai mereka tak bisa menikmati bahagia. Sehari-hari mereka hanya mendengar deru tembakan, suara-suara menyeramkan, dan berita kematian. Tak ada kegembiraan, yang ada hanya tangisan meraung-meraung meminta belas kasihan.
            Lebih parahnya lagi, dunia justru menutup telinga akan hal ini. Tak ada yang peduli. Jangankan untuk mengulurkan tangan mereka, untuk melihat bagaimana mirisnya negeri jajahan Yahudi ini saja, mereka tak mau.
            “Kak Kesya....” seseorang memanggilnya dari luar. Kesyatersadar dari lamunan, dan segera berjalan keluar.
            Di depan pintu kamarnya sudah berdiri Nesya, adiknya yang baru saja berusia 8 tahun, “kenapa Sya?”
            “Temenin aku main diluar yuk. Kita main di Negeri Hujan.” pinta Nesya, sambil menunjuk istana bonekanya di ruang tamu.
            “Boleh,” tanpa pikir panjang, Kesya menuruti permintaan adiknya. Negeri Hujan adalah salah satu dari sekian ribu negeri dongeng koleksi Nesya.
            “Kakak jadi Raja Hujannya. Aku jadi Putri Embunnya.” Nesya menjelaskan –sedang Kesya hanya mangut-mangut tanda mengerti. Setiap hujan turun, Nesya dan Kesya selalu bermain di Negeri Hujan.“Jadi nanti Raja Hujan marah sama rakyat. Soalnya rakyatnya itu....” Nesya terdiam lama. Bingung memikirkan alur apalagi yang harus ia buat. Akhir-akhir ini kotanya terus dilanda hujan, dan setiap hujan –ia dan kakaknya selalu bermain di Negeri Hujan dengan alur yang berbeda-beda.
            “Sambil nungguin penyebab Raja Hujan marah, gimana kalau kamu dengerin kakak cerita aja?” celetuk Kesya tiba-tiba.
            “Emang kakak mau cerita apa?”
            Sekarang giliran Kesya yang terdiam. Namun tak lama kemudian, ia mendapatkan sebuah ide berlian. Ia tak ingin anak-anak Palestina tak di dengar bahkan oleh adiknya sendiri. Adiknya harus tahu bagaimana nasib teman-temannya di luar sana.
            “Cerita tentang seorang anak yang nasibnya gak seberuntung kamu.”
            “Nasib itu apa?” sekarang Nesya duduk menghadap kakaknya. Matanya yang bening seolah memerlihatkan bahwa ia tertarik dengan cerita Kesya.
            “Nasib itu hidup. Di suatu negeri yang bernama Palestina, ada seorang anak yang bernama Maryam. Umurnya baru 6 tahun, lebih kecil daripada kamu. Dia punya seorang ayah yang pekerjaannya jadi tentara, dan seorang ibu yang sangat menyayanginya. Maryam gak pernah sedih selama hidupnya.”
            “Apa yang buat dia gak beruntung? Dia gak pernah sedih. Ayahnya juga tentara, dia pasti bangga punya ayah yang kemana-mana bawa pistol. Bisa nembak orang jahat,” Nesya menuturkan pendapatnya dengan polos.
            “Kakak belum selesai, Nesya. Ya memang sih ayahnya yang tentara bisa nembak orang jahat. Sampai suatu hari, waktu dia lagi main di taman, tiba-tiba ada suara yang begitu keras. Yang bisa bikin telinga kamu sakit kalau dengarnya,”
            “Suara apa itu kak?” Nesya mengubah posisi duduknya. Semakin bersemangat mendengar cerita anak yang bernama Maryam itu.
            “Suara bom. Bunyinya kayak petir, tapi ini di tanah, bukan di awan. Kamu bisa bayangin kan gimana kerasnya suara petir tapi di tanah?”
            “Aku tau kalau ada petir di awan itu berarti Raja Hujan lagi marah. Tapi kalau petir di tanah.......” Nesya menggantukan kalimatnya, kemudian bergidik ngeri. Membayangkan bagaimana nasibnya jika ketika itu dia sedang berada di taman bersama Maryam.
            Kesya tak menggubris celotehan adiknya, ia terus melanjutkan cerita, “Maryam dan semua temannya kaget waktu itu. Mereka mencoba menyelamatkan diri mereka masing-masing. Setelah suara keras itu tak terdengar lagi, Maryam pulang ke rumahnya. Tapiia lupa dimana letak rumahnya yang benar, karena semuanya udah rata sama tanah. Gak ada satupun yang tersisa,” Kesya menarik nafasnya dengan berat. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nasib perempuan kecil yang seharusnya mempunyai perlindungan, justru yang di dapat hanya kemalangan.
            “Rumahnya kena petir ya kak?” Nesya berceloteh lagi.
            Kesya hanya mengganggukkan kepalanya.
            “Kenapa dia gak minta ayahnya buat tembak orang jahat itu?”
            “Sya....kamu jangan komentar apa-apa dulu dong. Kakak belum selesai. Jadi kepotong-potong ceritanya,” kali ini Kesya menggelengkan kepalanya. Ia tak mengerti bagaimana bisa ia mempunyai seorang adik yang bawel sekali. Lama-lama ia berfikir bahwa ia telah salah langkah mengajak adiknya ini mendengar cerita.
            “Maaf deh. Abis aku penasaran kak.” Kata Nesya sambil menekuk bibirnya.
            “Dan pada hari itu juga, Maryam nangis buat yang pertama kali. Dia bingung. Sambil nangis, Maryam pergi mencari ibunya. Sampailah ia di ujung rumah yang dulunya dapur. Disamping kompor yang telah meledak, tergeletak seorang wanita. Mukanya hitam semua, kebakar,” walaupun ini hanya mengarang, Kesya ngeri sendiri.
            “Maryam gak bisa apa-apa. Dia cuma nangis sendirian. Berulang kali dia menggoyangkan tubuh ibunya, tapi hasilnya gak ada. Ibunya tetap gak bangun. Dari situ dia sadar kalau dia harus cari ayahnya,”
            “Jadi, Maryam meninggalkan ibunya dan berjalan keliling kota tak tentu arah. Semua kota sudah hangus terbakar, tak ada yang tersisa. Petir tanah tadi menghancurkan kota tinggal Maryam,” Kesya menghela nafasnya sejenak sebelum akhirnya kembali melanjutkan cerita.
            “Maryam terus mencari ayahnya. Berhari-hari ia berjalan menyusuri kota, teriknya udara Palestina tak menyurutkan semangatnya, tanpa ia sadar bahwa tak ada makanan yang mengisi perutnya. Dia kelaparan. Tapi dia tetap mau berjalan mencari ayahnya. Sampai suatu hari Maryam udah gak kuat nahan rasa laparnya. Dia memutuskan untuk beristirahat di sebuah toko dan tertidur disana. Lama sekali,”
            “Lama sekali?” Nesya yang sejak tadi hanyut dalam cerita, menuntut penjelasan kalimat terakhir kakaknya.
            “Ya. Dia tertidur disana berhari-hari dan gak terbangun lagi. Pemilik toko yang sengaja berkunjung ke tokonya melihat Maryam yang sudah tak bernyawa. Maryam meninggal karena kelaparan.” Miris, Kesya tak dapat membayangkan bagaimana nasib seorang Maryam.
            “Kasian Maryam. Harusnya aku bisa bantu dia, biar dia bisa cari ayahnya dan gak nangis lagi. Kakak terlambat cerita sih,” Nesya bersingut –kini menyalahkan kakaknya.
            “Gak ada yang terlambat di dunia ini, Nesya. Kamu bisa tetap bantu Maryam kok,” Kesya mengulum senyumnya sambil membelai lembut rambut Nesya.
            “Caranya?”
            “Dengan mengirimkan doa untuk Maryam yang sudah ada di surga sana.”
            Nesya terdiam cukup lama. Kemudian ia berdiri, mengambil sebuah buku tulis dari dalam tasnya dan merobek sisi tengahnya. Ditulisnya beberapa baris kalimat yang Kesya tak tau apa isinya. “Aku sekarang tau kenapa Raja Hujan marah sama rakyatnya,” kemudian Nesya berujar.
            “Kenapa?”
            “Karena rakyatnya gak mau peduli sama nasib orang-orang dari Negeri Tandus sana. Rakyat Negeri Hujan hanya mementingkan diri mereka sendiri. Tanpa sadar bahwa ada orang yang memerlukan bantuan mereka.”
            Kesya menganga. Alur yang sempurna! Dilukiskan oleh anak yang baru berusia 8 tahun. Ia bahkan tak menyangka bagaimana bisa adiknya mempunyai jiwa sosial yang begitu tinggi terhadap teman-temannya. Nesya tak menutup telinga untuk masalah teman-temannya. Di celotehannya yang polos barusan, Kesya tahu, adiknya bersedia mengulurkan kedua tangannya kapan saja.
            Nesya terus berceloteh tentang Negeri Hujan dan alur baru yang sedang di buatnya. Secara diam-diam Kesya melihat isi dari kertas yang tadi di robek Nesya, tertulis sebaris doa tulus disana;
Untuk Maryam,
Aku mungkin gak sempat bawain kamu makanan. Tapi sekarang aku minta sama Tuhan semoga kamu dan ayah ibumu bisa sama-sama lagi di surga.
Salam, Nesya.
            Kesya tersenyum. Bersyukur karena setidaknya ada anak Indonesia yang peduli bagaimana nasib anak-anak Palestina. Walaupun hanya 2 orang. Ia dan adiknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/tips-cara-supaya-artikel-blog-tidak.html#ixzz2NEfURgcc