Kamis, 25 Juli 2013

Alasan

Halooo. Akhirnya setelah menghilang beberapa bulan, gue muncul lagi di hadapan kalian. Kali ini bukan untuk membuat fiksi –tapi hanya untuk sekedar berbagi cerita kenapa gue gak nulis-nulis dan (mungkin) buat kalian kangen~
Curhatan ini gue buat waktu lagi suntuk-suntuknya sama kehidupan gue dan itu juga sebabnya kenapa gue pakai panggilan “gue” bukan “saya” seperti biasanya. Sebelumnya sorry, penulis amatir memang senangnya bercerita:’)
Jadi kemana gue selama ini? Gue ada. Masih di depan laptop dan duduk di bangku yang sama. Bedanya, ide gak pernah mampir untuk sekedar memberi ucapan selamat malam kesini. Miris kan? Iya. Itulah hidup. Kita gak pernah tahu kapan yang selalu datang akan juga selalu pergi. Gue sudah coba buat cari dengan berbagai cara: meditasi ke rumah sakit, mondar-mandir di taman, bahkan sampai bengong di kamar mandi pun gue lakukan! Sayangnya, ide gak juga datang.
Itu alasan utama kenapa blog gue biarkan usang.
Alasan pendukungnya adalah ada kejadian yang buat gue nangis dan gak mood nulis sama sekali. Padahal, setelah gue pikir-pikir kejadiannya keren juga kalau dibuat fiksi. Hehehe. Mau tahu? Yuk simak lagi!
Jadi gini, ada seseorang yang buat gue bisa senyum-senyum kalau dapat pesan singkat dari dia. Bisa juga buat gue uring-uringan kalau dia ada di twitter tapi gak balas sms. Sebut dia: EX.
Sebelumnya, si EX ini pernah juga singgah di hidup gue setahun yang lalu. Kita kenal karena salah satu teman gue yang kasih tahu. Setelah kenal, kita jadi dekat. Waktu itu gue masih kelas 10 dan dia sudah kelas 12. Kita beda sekolah. Dia mau fokus UN makanya gue (agak sedikit) lama nunggu kepastian dari si EX ini.
Singkat cerita, si EX ternyata pergi dengan alasan yang (mungkin masih) bisa diterima hati gue. Gue kehilangan. Bingung? Iya. Gue juga gak ngerti kenapa perkenalan singkat via mak comblang ini begitu membekas. Sederhana tapi bermakna:’D
Beberapa hari gue lewatin dengan air mata. Capek? Pasti. Kurang Kerjaan? Bisa jadi. Move on? Nggak tahu. Teman-teman gue mungkin gemes –kenapa nasihat mereka untuk lupain EX gak kunjung gue lakuin. Sampai akhirnya mereka membiarkan gue larut dalam kesedihan gue sendiri.
Gue gak salahin teman-teman gue yang memutuskan melakukan tindakan senekat itu. Gue yakin itu cara mereka peduli.
Setiap orang punya caranya masing-masing, bukan?
Kemudian gue naik ke kelas 11. Di kelas 11 gue sudah gak sempat mikirin si EX karena tugas yang numpuknya kayak gundukan jerami. Banyak banget. Belum lagi project gue untuk menulis semakin ketat. Jadi gue sempat lupa sama apa yang bisa buat hati gue retak waktu itu.
Sayangnya, saat kenangan masa lalu sudah gue tutup dan gue mulai mencari kenangan baru, dia justru datang dan mencoret lagi kehidupan gue.
Lebih parahnya, gue justru kembali jatuh cinta.
Kenapa? Gue sendiri gak pernah dapat jawabannya. Mungkin gue belum bisa tegas sama diri sendiri sehingga dia datang lagi. Mungkin juga gue masih ada rasa sehingga dia masih jadi yang utama. Mungkin juga dia cinta pertama.
Mungkin. Dan menebak-nebak telah membuat diri gue kalut sendiri.
Intinya, kita dekat lagi. Walaupun gak selama dulu dan pada akhirnya gue ditinggal (lagi) lantas nangis (lagi).
Dengan alasan yang sama dia pergi.
Itu artinya gue harus menyusun hati gue lagi.
Untuk yang kedua kali. Juga dengan alasan yang sama.
Blog usang dan hati retak bukan menjadi alasan gue berhenti berjuang. Selama menghilang, gue juga sudah berhasil menggapai mimpi gue yang pertama: bikin buku.
Daripada nungguin ide datang dan akhirnya gak nulis-nulis, gue memulai revisi cerpen lama. Semuanya gue perbaharui. Dan jadilah SLICE OF LIFE: Akan tiba saatnya dimana kamu akan merasa bahagia.
Judul diambil dari pengamatan gue terhadap orang-orang yang terlalu sering mendramatisir masalahnya. Termasuk gue. Tapi pada akhirnya, semua akan indah pada waktunya, bukan? Tuhan gak mungkin memberikan masalah diluar batas kemampuan makhluk-Nya. Kita hanya perlu keikhlasan dan kesabaran doang kok! Sampai kapan sabar? Sampai kapan ikhlas? Sampai lo sudah siap meninggalkan kesedihan dan mulai mencari kebahagiaan baru.
SLICE OF LIFE adalah kumpulan cerpen yang masih terbit sendirian. Beberapa cerpen diambil dari kehidupan dan pengalaman yang gue alami selama ini, beberapa lainnya dari kehidupan orang lain. Kalian mau baca? Boleh dong. Hubungi gue secepatnya lewat twitter: @nadaanadi.

See you!
23/07/13 - 22:55

Selasa, 04 Juni 2013

HARAPAN UNTUK KENYATAAN-KENYATAAN



HARAPAN UNTUK KENYATAAN-KENYATAAN

Kemarin saya telah mengulang tanggal kelahiran. Ternyata sudah 17 tahun yang lalu saya menepaki hidup ini. Terlalu cepat rasanya; bila mengingat bahwa saya belum mencapai apa yang saya inginkan. Entah karena apa –mungkin terlalu banyak harapan, sehingga tak ada yang jadi kenyataan. Tapi hidup itu tentang mimpi bukan? Seperti mimpi-mimpi kalian yang akan saya tuliskan. Terima kasih. Berkat kalian, saya punya kekuatan. Setidaknya untuk menjalani hidup beberapa tahun lagi.

Almanisa Aisyarahmah: Happy belated b’day sayang. Maafin aku sama yang lain yah baru bisa ngasih semuanya sekarang. I love u.
Kusuma Dwi Putra: Hepi berdey tu yu hupt. Pacaran gak pacaran lu harus tetep hepi kan ada kita. Pacaran? Pending!
Rakhmat Septian: Pibesdey.. semoga pdkt-annya langgeng ya!
Indah Puspa Muharani: Happy Birthday, Nada. Semoga pdkt-annya cepet jadi dan cita-cita jadi penulisnya terkabul ya!
Dwi Putri Azharini: Hari ini seru banget bikin suprise buat anak centil hahahaha HBD!
Annisa Hernanda Fakhriah: Happy birthday cantik. Semoga +++ dan diberi kemudahan menjalani hidup. Jangan lupa KTPnya cepet di buat!
Syahrizal Sidik: Hey..hey.. 17 tahun. Stay strong and smart!
Diyah Ayu Pritama: Happy birthday ibu sastraaaaa!!! Semoga makin jago buat kata-kata yang nyentuh di hati & makin strong aja kita jadi cewek hehehe
Inke Trisanti: Happy birthday to the seventeen! Hopefully long life and good health. More succesful in making up a story ya!
Sisca Sulistiowati: Selamat ulang tahun ya ratunya puisi galau! All the best for you.
Zakyta Pangestika: Happy birthday, Nada! Terus berkarya!
Rendy Akbar Faisyal: Pibesdey Nada yang cantiiiik. Panjang umur, sehat selalu, dan cepet kurus! Makin pinter, rajin, dan bikin bangga orang tua!
Siti Farah: Happy birthday ya kakak sekaligus fans aku. Semoga bisa jadi penulis yang sukses!
Novira: HBD kak! Semoga tulisannya makin oke ya!
Rizky Dwinanda: HBD ye! Wish you all the best. Don’t let people’s disappoint u anymore. Make them suffer purishment!
Dinna Ayu Widyasari: Weeee birthday girl! Selamat ulang tahun. Semoga semakin sastra dan ++++ lain isi sendiri!
Mutiara Melati: Selamat ulang tahun teman kelas sepuluh. Cepet dapet pacar ya!
Fikri Qodri: Happy birthday Nada! Keep writing!
Rahma: Pibesdey selalu baik dan semakin baik. Panjang umur semoga jadi penulis yang hebat ya sayang.
Muty Hardani: Selamat ulang tahun. Semoga nanti bisa nemuin buku karangan Nada Meita N di toko buku. Keep write your mind into words, Nad!
Nurul Lupita: Happy b’day peri kecil kakak. Tetep jadi penulis kecul yang berinspirasi ya! Jangan galau mulu.
Lina Aprilia: Happy birthday yaaaa. Semoga makin jadi orang baik sedunia.

            Sekarang saya mau tidur. Semoga dalam mimpi nanti, mimpi-mimpi kalian akan menjadi kenyataan. Meskipun hanya mimpi. Selamat malam!

Jum’at, 31-05-2013
22:00

(benarkah) INI CINTA



(benarkah) INI CINTA

Saya pernah merasakan cinta. Sebelum akhirnya saya dipertemukan dengan mati rasa. Jatuh di hati seseorang yang tak akan menangkap hati ini memang selalu terasa sakitnya. Sejak saat itu, saya tak pernah berniat lagi masuk dalam dimensi cinta.
            Tapi, cinta selalu menemukan jalannya untuk kembali pulang.
            Saya ingat dahulu saya sedang melihat laki-laki itu tertawa bersama teman-temannya. Renyah sekali. Seperti tak ada beban dalam hidupnya. Kemudian bibir saya membentuk seulas senyum yang tak bisa saya tahan.
            Sejak saat itu, saya selalu mencari kesempatan untuk menatapnya. Meskipun dalam diam. Dan saya menyimpulkan ini: Laki-laki itu senang bercanda, walau sebenarnya ia bersifat penyendiri. Pernah waktu itu saya melihatnya di perpustakaan –sedang membaca. Saya memerhatikannya dengan seksama, dan tak pernah tahu bahwa saya kembali merasakan cinta.
            Pengagum rahasia selalu mencari tahu apapun tentang seseorangnya, bukan?
            Saya tidak berani menyapanya, hanya melihatnya dari tempat persembunyian dan tak pernah tahu kapan akan keluar. Saya tidak berharap bahwa ia akan tahu apa yang saya rasakan. Karena, menjadi pengagum rahasia tidak perlu banyak alasan.
            Saya sudah bahagia jika melihat dia tertawa. Dan saya terluka jika menangkap dia sedang bersama wanita. Entahlah, saya tak mengerti apa yang diinginkan hati ini.
            Semoga bukan cinta yang salah, lagi.

SEMU



SEMU
Mengapa (harus) ada nyata, jika maya saja sudah berakhir bahagia?

            Hidup terkadang menjadi sebuah lagu yang mengalun begitu saja. Tanpa pernah tahu siapa yang akan menyanyikan, mendengarkan, dan memberi penghargaan. Karena yang terpenting adalah bagaimana lagu menghibur setiap orang, tanpa pernah berharap menjadi tenar.
            Ini sudah hari ke tujuh aku mengaguminya dalam diam. Dia. Seseorang yang entah darimana datangnya –mungkin sengaja dikirimkan Tuhan agar waktu mempertemukan dua insan. Aku mengenalnya karena dia mengagumi tulisanku. Aku mengaguminya karena...ah entahlah. Sulit di jelaskan. Padahal, kami belum pernah sekali bertemu.
            Jika belum pernah bertemu, mengapa hati kami sudah saling mengagumi?
            Aku juga heran kapan terakhir kali aku merasakan seperti ini. Menunggu balasan seseorang yang –bahkan– tidak ku ketahui wajahnya, sifatnya, dan kehidupannya. Mungkin ini dampak sosial media. Ketika seseorang dengan orang lainnya begitu cepat menyimpulkan perasaan. Ketika seseorang begitu cepat mengartikan sapaan. Ketika seseorang begitu cepat jatuh cinta.
            Tapi, aku bahagia.
            Jika Tuhan menginginkan aku dan dia terus seperti ini, tidak apa-apa. Setidaknya sekarang aku punya seseorang yang dapat menjadi matahari bagi tulisan-tulisanku. Setidaknya aku tidak berhenti menulis. Setidaknya, aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat lagi.
            Setidaknya. Entah sampai kapan.

Selasa, 14 Mei 2013

Kita berbeda:')

Saya sedang menari dengan soal matematika ketika kamu datang dengan menggebu-gebu. Terdapat sebuah amplop di tanganmu, dengan mata yang tak sempat saya baca apa artinya, kamu memeluk saya.
"Gue menang!!! Ini surat dari panitia. Dan gue berhak ikut ke babak selanjutnya!!!" katamu sambil memeluk saya begitu dekap sehingga sulit sekali rasanya untuk saya bernafas.
"Lepasin gue dulu!" saya memohon. Kalau tidak, saya akan mati sekarang juga.
Kemudian kamu melepaskan pelukan, "selamat ya. Lo emang pantes dapetin semuanya," lanjut saya. Kamu mengangguk sambil terus tersenyum, memancarkan aura bahagia yang -tanpa pernah kamu tahu- membuat saya terluka.
"Makasiiiiih untuk semua semangatnya, Sya." sahutmu.
Saya mengangguk dan duduk: kembali mengerjakan soal matematika.
Tak ada pembicaraan lebih lanjut setelah itu, kamu hanya duduk di hadapan saya sambil membaca sebuah majalah sastra. Sampai keheningan sudah terlalu lama membekap kita, kamu bicara: "Olimpiade kemarin gimana?"
Saya mendongak. Menatap lurus ke arahmu. Sebenarnya, saya tak ingin membahas; jika bukan kamu yang menyuruh.
"Belum menang," suara saya terdengar parau.
Kamu terlihat bersalah; saya melihatnya dari matamu. Tapi kemudian kamu tersenyum, "semangat terus!" katamu sambil mengepalkan tangan di udara.
Saya lagi-lagi hanya mengangguk. Jika kamu mendengar hati saya, mungkin lebih baik jika tadi kamu tidak menceritakan kebahagiaanmu itu. Bukan, bukan berarti saya tidak ikut bahagia -saya hanya belum menerima mengapa kemenangan seperti enggan untuk menghampiri hidup saya. Walaupun hanya sebentar.
Katanya, Tuhan selalu menyelipkan kelebihan pada setiap insan. Tapi mana bagian saya? Saya tidak pernah menemukan kelebihan saya pada bidang apapun. Saya tidak pernah membuat orang-orang bahagia dengan kelebihan yang saya miliki. Saya tidak pernah seperti kamu: sahabat saya yang selalu di naungi kemenangan.
Saya hampir menangis jika saja saya bukan wanita. Wanita selalu menyembunyikan air matanya bukan?
"Gue traktir yuk. Lo mau kemana?" tiba-tiba kamu menutup semua buku saya; seperti bisa membaca apa yang sedang saya pikirkan.
"Gak usah. Keperluan lo masih banyak," saya menolak halus dengan kembali membuka buku.
"Ah traktir lo gak akan buat gue bangkrut. Hitung-hitung bayar semangat yang selalu lo kasih cuma-cuma itu. Oke? Yuk!" tanpa meminta persetujuan saya kali ini, kamu segera memasukkan semua buku saya ke dalam tas, dan menggendongnya di punggungmu. Dalam hati saya mengumpat, mengapa punya sahabat yang hatinya keras seperti batu. Tapi, saya selalu selipkan kebahagiaan di balik umpatan.
Sambil terus bergandengan erat, saya tersenyum. Sadar bahwa setidaknya meskipun Tuhan belum menunjukkan kelebihan saya, saya punya kamu sebagai penutup kekurangan saya. Terima kasih.

3 Mei 2012 - 21:02

Minggu, 05 Mei 2013

GOOD (space) BYE


GOOD BYE
I still like you, I’m just tired of trying

            Besok hari senin. Bagi setiap siswa, Senin merupakan hari pertama dimana kesibukan kembali dimulai karena libur telah usai. Dan seharusnya sekarang aku sedang dalam keadaan memegang buku pelajaran biologi untuk bahan besok persentasi. Tapi, bayanganmu selalu saja menghampiri dan tak pernah berhenti mengisi semua sel dalam otak depanku.
            Masih dengan subjek, objek, dan keterangan yang sama. Aku yang hampir setiap malam tersiksa karena tak bisa memilikimu. Ini sudah bulan ke tujuh –dalam hitungan kalendarku– aku terus berjuang mendapatkanmu, namun kamu tetap saja seperti itu: tak melihatku.
            Aku tak tahu siapa yang salah jika sudah seperti ini. Aku yang terlalu bodoh karena menunggu seseorang yang bahkan tak menghargai perjuanganku atau kamu yang terlalu buta karena tak bisa melihat mana seseorang yang seharusnya kamu perjuangkan.
            Namanya juga cinta. begitu kata teman-temanku ketika aku menanyakan mengapa hal ini bisa terjadi. Ya, mungkin mereka benar. Mungkin ini cinta. tapi masihkah bisa di sebut cinta jika yang berjuang hanya sendirian?
            Aku tetap menyukaimu, tapi aku telah lelah berjuang. Mengapa harus berjuang jika balasan yang di dapat selalu pengabaian? Mengapa harus berjuang jika hasil yang di dapat tidak pernah sesuai harapan? Mengapa harus berjuang jika hati sudah lelah untuk bertahan?
            Haruskah aku melepasmu? Ketika aku sudah benar-benar lelah untuk berpura-pura seperti ini.
            Jika nanti aku pergi, akankah kamu mencariku dan memintaku kembali? Bukan, ini bukan semacam harapan, ini hanya pertanyaan yang akan kamu temukan jawabannya sekarang. Jika nanti aku sudah pergi dan kamu memintaku kembali, aku tidak akan menuruti. Mungkin kita hanya bisa sekedar dekat, tapi tak sedekat saat aku benar-benar menginginkanmu.
            Aku perempuan. Dan perempuan senang di perjuangkan, bukan memerjuangkan. Selamat tinggal, seseorang yang telah aku perjuangkan namun kamu memberikanku pengabaian:’)

Kamis, 02 Mei 2013

MOSAIK


Oleh :Oan Wutun
Diam-diam, Che merobek selembar kertas dari buku Matematikanya. Diraihnya pensil kayu yang sedari tadi tergeletak diam di atas meja. Pensil itu di putar-putar di sela-sela jarinya. Seperti ada jiwa yang terbangun dari tidur panjang dalam pensil itu, perlahan-lahan namun mengalir, Che mulai menulis pada lembaran kertas tadi. Tulisannya ia awali dengan catatan harian seorang gadis bernama…
Sophie
Tentang hari ini, katamu, untuk satu moment yang hanya terulang sekali setahun, perlu ada perayaan.
Sebenarnya, ingin kukatakan kalau hidup ini terlalu singkat untuk dirayakan, sesingkat pijar lilin di atas kue ulang tahun. Perhatikanlah! Hanya dengan satu hembusan nafas, semuanya selesai. Singkat bukan? Lilin itu padam, di buang ke tempat sampah, hilang, dan tak akan di kenang lagi. Lantas, apa yang mau kita rayakan hari ini? Redup pijar hidupku? Suam-suam kuku kehangatanku? Diam lilin kehidupanku? Leleh jiwaku oleh pijarku sendiri? Apa? Tak ada bukan?
Kau tentu masih ingat kata-katamu sendiri, “….segala sesuatu mengalir dan tak ada yang terulang kembali. Seseorang tidak akan pernah turun dan menginjakkan kaki pada air sama meski ia lakukan pada sungai yang sama. Air sungai yang di sentuh sebelumnya telah berlalu, mengalir jauh ke hulu dan berubah.” Kau masih ingat ‘kan?
Kamu pasti pura-pura lupa.
“Dalam peredaran zaman,” katamu lagi, “hanya perubahanlah yang ada. Tak ada yang tetap dalam hidup ini selain perubahan.”
Aku hanya mengangguk meski tak begitu mengerti.
“Pokoknya hari ini mesti kita rayakan semeriah mungkin,” serumu begitu bersemangat.
“Di mana-mana,” tambahmu lagi, “orang merayakan hari ulang tahun.”
Aku hanya bisa tersenyum melihat dirimu begitu bersemangat merayakan ulang tahunku.
Al… kau sebenarnya tahu kalau waktu selalu mengalir; mengalir dari abadi sampai pada satu batas tanpa patok. Perhitungan detik, jam, hari, bulan, tahun, dan abad hanyalah bukti kelemahan manusia di hadapan sang waktu. Kau, aku, dia dan mereka tak lebih dari satu pijar lilin kecil, jika bukan sebuah titik kecil, di dalam guliran waktu yang abadi.
Tahun tidak berulang kembali Al… apa lagi waktu. Jadi, sebenarnya untuk apa perayaan ini?
Meski demikian, kuharap kau tak bersedih atau marah saat membaca catatan ini. ‘Coz, tonight still be unforgetable night.
Aku hanya ingin sedikit mempertanyakan ini semua. Bolehkan? Thanks untuk semua yang telah kuterima darimu selama ini, khususnya untuk malam ini. Walaupun tak seperti tahun lalu; tak ada biskuit seharga lima ribu rupiah yang kau susun bagai tart kecil; tak ada lilin bekas yang berpijar indah di tengahnya; dan… tak ada ciuman yang membuat wajahku merah padam, malam ini tetaplah menjadi malam yang indah. Sebab, ada kisah indah yang telah kita tulis bersama malam ini. Andaikan aksara ini bisa berteriak ‘kan kuteriakkan isi hatiku, agar dunia tahu yang sesungguhnya. Aku mencintaimu.
Oh… ya, terima kasih juga karena engkau telah mengingatkanku tentang hari istimewa ini, ulang tahunku yang ke-21. Semua itu istimewa. Namun, tahukah kau? Dirimu lebih istimewa dari semua itu.
27 Feb ‘13
S.
Ar dan Che
“Untuk apa ini?” Tanya Ar heran, ketika Che menyodorkan kepadanya sebuah pensil kayu, jelek dan penuh bekas gigitan di ujungnya.
“Aku sudah menulis bagianku. Sekarang giliranmu,” bisik Che sambil matanya tetap mengawasi gerak dan pandangan pak Proka, guru bertubuh gemuk dan berwajah sangar dengan kumis dan jambang yang liar. Suara pak Proka mengelegar, menjelaskan pelajaran yang sama sekali tidak diminati Ar dan Che. Matematika.
“Oh… menulis kisah bersama lagi? Boleh…. Tapi tak adakah pensil yang lebih bermartabat untuk Ar, sang maestro romantik klasik?” Ar enggan menerima pensil milik Che.
“Tulis saja… jangan banyak protes. Ini kertasnya. Judulnya ‘Mosaik’. Gadisnya bernama Sophie dan kekasihnya bernama Al,” bisik Che sambil tetap mengawasi gerak dan pandangan pak Proka. Aman.
“Huu…, simpan saja pensil jelekmu itu! Aku masih punya yang jauh lebih bermartabat. Setidaknya yang bukan sekaligus makanan ringan seperti punyamu.”
Sejenak Ar membaca hasil tulisan Che tentang catatan harian Sophie. Ar menerawang, mengetuk-ngetuk pensilnya di meja, kemudian mulai menulis lanjutan kisah tersebut. Tentang Al.
Al
Sophie… sudah kukatakan, mesti ada perayaan untuk tiap moment yang terjadi sekali setahun. Lihatlah, di mana-mana orang merayakan hari ulang tahun kelahiran, pacaran, pernikahan bahkan kematian. So…, ulang tahunmu pun mesti kita rayakan, tetapi bukan karena orang lain merayakan ulang tahun mereka. Kita punya alasan sendiri dan… tentu dengan cara kita sendiri. Spesial!
Maaf, jika malam ini tak ada candle light dinner, dan semua ritual perayaannya. Yang pertama, kau sendiri tahu bagaimana isi dompetku. Yang kedua, tentu kau setuju kalau makan malam dengan lilin bernyala, kini bukanlah pilihan yang romantis lagi. Picisan. Terlalu ‘biasa’. Untuk malam yang istimewa ini, ada cara yang lebih istimewa dari sekedar makan malam dengan lilin bernyala.
Ar dan Che
“Che…, apa kau telah merancang konsep perayaan ulang tahun dalam kisah ini?” Tanya Ar sambil pura-pura merenggangkan otot-otot, mengelabuhi pak Proka.
“Tidak ada,” bisik Che sambil meyusutkan tubuhnya. “Ingat, mengalir saja dalam kisahnya.”
Ar mengangguk-angguk mengerti. Tiba-tiba ia tersenyum, lalu mulai menulis lagi.
Al dan Sophie
Tak ada ritual meniup lilin, kue tart, candle light dinner atau bright adventurous dinner. Tak ada pinata seperti di Meksiko. Tak ada telur yang diwarnai merah menyala dan mi yang tidak dipotong-potong seperti di Cina.Tak ada bendera negara di jendela rumah seperti di Denmark. Tak ada dansa waltz seperti di Ekuador dan Argentina. Tak ada nasi tumpeng seperti di Jawa. Semuanya tak ada. Lagi, tak ada yang tahu kalau mereka berdua tengah merayakan ulang tahun Sophie. Yang ada hanya selembar kertas kosong dan sebuah pensil kayu tua, yang masih dipegang Al.
“Dengarkan,” Al berlagak seperti seorang guru berbicara kepada murid. “Orang Latin bilang: ‘Fortuna Dies Natalis!’ Orang Spanyol bilang: ‘Feliz Cumplea-os!’ Orang Portugal bilang: ‘Parabens!’ Di Jerman orang bilang: ‘Alles Gute zum Geburstag!’ Em…, di Paris orang bilang: ‘Joyeux Anniversaire!’ Jika ingin di-mandarin-kan akan menjadi: ‘Qu Ni Shen Er Kuai Le!’ Kalau Socrates cs di Yunani bilang…: ‘Chronia Pola!’, Nenekku bilang: ‘Happy Birthday!!!’”
“Oh, ya…?” Shopie berusaha bersikap dingin, walau sebenarnya tengah menahan tawa. “Apa masih ada yang lain?”
“Em…,’ Al salah tingkah. Leluconnya ditanggapi Sophie datar-datar saja. Ia hampir kehilangan ide.
“Masih. Masih ada. Em…, Upin-Ipin bilang: Celamat Hali Jadiii!”
Tawa keduanya tak terbendung.
Ar dan Che
Sedetik saja pak Proka lengah, secepat kilat Ar mengembalikan lembaran kisah ‘Mosaik’ kepada Che.
“Giliranmu! Ideku sudah buntu!” Ar kehabisan ide.
“Tapi, pakai pensilmu sendiri,” tambah Ar, yang kemudian salah tingkah ketika sadar ia tengah dipelototi pak Proka. Che bertingkah seolah tidak terlibat dengan apa yang dilakukan Ar. Che masih menggigit-gigit ujung pensilnya.
Sedetik sebelum mulai menulis, Che menyempatkan diri melirik ke arah Ar. Ar langsung membalas lirikannya dengan tatapan menuduh. Che tersenyum menang, lalu mulai menulis lagi.
Al dan Sophie
“Hari ini tanggal 27, bulan Februari, tahun 2013. Kita rayakan ulang tahunmu yang ke 21. Kau tahu? Aku punya ide istimewa untuk perayaan ulang tahunmu di tahun yang sempat diramalkan tidak ada ini,” Al bersemangat.
“Oh, ya…?” tanya Sophie tanpa apresiasi untuk semangat Al. “Setahuku, kau selalu punya ide ‘istimewa’, yang jika boleh kusebut aneh, untuk setiap perayaan ulang tahunku. Kira-kira apa idemu tahun ini?” Sophie menanti jawaban.
“Untuk tahun ini, dijamin brilian. Inilah perayaan ulang tahun yang belum pernah diramalkan sebelumnya,” Al semakin percaya diri.
“Aku ingin kita bersama-sama, bergantian menuliskan sebuah kisah tentang perayaan kita malam ini. Aku menulis sepenggal, kemudian kamu sepenggal, lalu aku lagi. Kamu menulis lagi, kemudian aku lagi, lalu kamu lagi, setelah itu aku lagi. Terus dan terus begitu hingga tercipta sebuah kisah. Bagaimana?” Al mengangkat alis, bangga.
“Kisah yang kita tulis bersama? Em…, kedengarannya menarik. OK. Kita coba bersama,” Shopie tampak sungguh tertarik dengan ide Al.
“OK. Begini,” rupanya Al masih mempunyai ide. “Bagaimana kalau kita bercerita tentang orang lain, yang bercerita tentang perayaan kita malam ini?”
“Kita… bercerita… tentang orang lain… yang bercerita… tentang… perayaan kita malam ini.” Sophie berusaha mengerti ide Al.
“Apa itu akan menjadi sebuah lingkaran cerita?”
“You get it!”
“OK. Aku setuju!” Shopie semakin bersemangat.
“Em…” Sophie menggigit bibirnya sambil berpikir.
“Bagaimana kalau tentang dua orang sahabat?”
“Kenapa tidak?” Al semakin bersemangat.
“OK. Kalau begitu tunggu apa lagi? Let’s move! Tetapi, karena hari ini hari spesialku, maka akulah yang duluan menulis!”
Tanpa banyak kata, Sophie meraih kertas dan pensil dari tangan Al. Sejenak ia menerawang, tersenyum sendiri, kemudian dalam diam, mulai menulis tentang dua orang sahabat. Salah satu tokoh dalam kisah itu ia beri nama Che. Judul kisah mereka….
MOSAIK
Diam-diam, Che merobek selembar kertas dari buku Matematikanya. Diraihnya pensil kayu yang sedari tadi tergeletak diam di atas meja. Pensil itu di putar-putar di sela-sela jarinya. Seperti ada jiwa yang terbangun dari tidur panjang dalam pensil itu, perlahan-lahan namun mengalir, Che mulai menulis pada lembaran kertas tadi. Tulisannya ia awali dengan catatan harian seorang gadis bernama…
Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/tips-cara-supaya-artikel-blog-tidak.html#ixzz2NEfURgcc