Tiba-Tiba Ada Lagi
Sudah lama sekali rasanya aku tidak bercengkrama dengan sastra. Tak memeluk kata agar ia dapat menyatu dengan ragaku. Tak mencoba berlari mengejar inspirasi yang datang lalu seenaknya pergi. Aku hanya diam saja disini; tak melakukan apa-apa.
Sampai kemudian, rasa itu datang lagi.
Aku sedang berbaring di tempat tidurku. Menunggu mataku terpejam. Lalu tiba-tiba inspirasi itu datang. Mereka tak cepat pergi justru berterbangan di atas kepalaku banyak sekali. Seperti kupu-kupu. Indah. Mungkin mereka minta di tangkap.
Jadi aku menangkap satu.
Aku simpan di bawah bantal, untuk kapan-kapan akan aku ambil sebagai kopi hangat diantara percakapanku dengan sastra. Mungkin, siapa tahu?
12-02-2013
21:18
Tiga Kenyataan
Akan kutuliskan tiga kenyataan yang -semoga- dapat membuatmu melihat ke arahku sebentar saja.
Kenyataan pertama adalah bahwa aku mencintaimu. Tak perlu banyak alasan untuk mengutarakan ini. Karena kebanyakan cinta hadir tanpa alasan yang pasti. Aku hanya senang memotret setiap tindakan yang kau lakukan lalu memutarnya kembali saat aku akan terlelap. Semacam lagu penghantar tidur. Setelah itu, aku akan menemukan diriku tersenyum sendirian.
Kenyataan kedua adalah bahwa aku selalu menjadi orang lain. Aku iri terhadap mereka yang -dulu- dengan mudah mengatakan rindu padamu tanpa malu-malu; sedang aku harus menuliskan rindu itu pada sajak setiap malam. Secara diam-diam. Tanpa tahu kapan kau akan membacanya.
Kenyataan terakhir adalah bahwa aku adalah arah yang membawamu kembali ke jalan pulang. Aku yang banyak berjuang untuk mendapatkan sedikit penerangan darimu. Lihatlah kemari sebentar, Sayang. Aku telah banyak berjuang untuk mendapatkan sedikit perhatian. Darimu.
13-02-2012
20:45
Wangi Hujan
Wangi hujan semalam masih terasa. Dari tempatmu, dia mengetuk-ngetukkan rindu yang sudah lama usang oleh waktu. Di tempatku, dia menuliskan cerita yang takkan pernah habis kita baca.
Wangi hujan lalu jatuh; menyerbak setiap kenangan yang telah kau simpan rapi dalam lemari. Dan angin membawakannya untukku. Untuk kita jenguk sekali. Kemudian pergi.
13-01-2013
22:30
Percakapan Dalam Kamar
Ponsel itu lagi-lagi memperdengarkan musik dari mulutnya. Semakin lama semakin keras. Semakin menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Sedangkan si empunya ponsel hanya diam saja disana; diantara air mata yang bercerita kepada bantal kamar. Semakin lama semakin keras. Semakin menyayat hati siapapun yang melihatnya.
"Kenapa lagi dia?" bisik salah satu novel di ujung rak belajar.
Yang lain hanya mengangkat bahu, acuh tak acuh.
"Kasian ya. Juragan kita tak pernah bahagia sepertinya," kini isi mading yang geleng-geleng.
"Sudahlah, biarkan saja catatan kecil dalam ponsel yang mengetahui apa yang terjadi kali ini. Lebih baik kita tidur saja." setelah itu hanya hening yang bercengkrama dengan ponsel yang masih menyala.
Tuhan, tak adakah sedikit ruang kebahagiaan untukku? Mengapa lagi-lagi pengkhianatan?
Si empunya berbisik pada catatan kecil. Sedang matanya kini terlelap dengan luka yang belum juga terusap.
"Semoga Tuhan memberikan kekuatan lewat tulisannya malam ini."
Bantal hanya mengangguk sambil terus mengusap air mata yang tak mau juga menjadikan dirinya tiada.
24-12-2012
21:24
Kamis, 14 Februari 2013
Selasa, 05 Februari 2013
Sebaris Kata dalam Kata
Sebaris
kata itu hidup dalam kata. Karena selalu berdampingan dengan kata, maka aneh
bila suatu hari ia tak ada.
Malam
telah menggelar altarnya pada dunia. Ditemani hujan dan nyanyian rintiknya,
jemariku bermain pada tuts komputer usang karena telah lama aku tinggali. Kini,
kugali lagi sisa-sisa sebaris kata itu yang –mungkin– masih tersimpan rapi
dalam kata.
Aku akan mencoba.
Sekuat dan semampu yang aku bisa.
Jam
berdetak lebih cepat.
Jantung
kian berkejaran dengan waktu.
Jemariku
masih asik bermain pada tuts komputer; sedang sesekali hujan menyuruh untuk lebih
cepat menemukan sebaris kata itu.
Kemudian tiba-tiba gelap.
Kini gantian air
mataku yang bermain pada tuts komputer.
Selasa, 05 Februari 2013
21:53
Senin, 04 Februari 2013
KUNCI UNTUK SHILA
KUNCI UNTUK SHILA
Kata Kakak, bahagia itu sederhana.
Namaku Camelia Jelita, umurku baru menginjak 10 tahun. Aku belum mengerti betul apa itu sederhana –saat aku tanya pada Ayah, beliau bilang sederhana berarti tidak berlebih-lebihan; merasa cukup. Jadi, aku ambil kesimpulan bahwa bahagia yang sederhana adalah kebahagiaan yang dicapai melalui hal-hal kecil.
Sampai akhirnya, aku bertemu dengan Shila.
Shila adalah tetangga baru sebelah rumah. Umurnya sama denganku. Tetapi, dia berbeda dengan anak-anak lain. Saat kami semua bermain di luar rumah, Shila hanya duduk di depan teras dengan buku dalam genggamannya. Pernah waktu itu aku melihatnya sedang menulis, atau ketahuan sedang tersenyum melihat kelakuan teman-temanku.
Saat aku tanya pada Kakak mengapa ia tak pernah keluar rumah, kakak bilang Shila menutup diri. Lagi-lagi aku tidak tahu apa artinya itu, tapi aku bermaksud mencari kuncinya. Jadi, saat kalender menunjuk pada tanggal 2 Agustus, sore harinya aku mengajak Ibu ke rumah Shila.
Rumah Shila tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Pagarnya berwarna abu dengan cat rumah senada. Ibu mengetuk pintu depan dengan aku yang berada disampingnya.
Saat pintu dibuka, tampak seorang wanita cantik berdiri disana. Dengan keriput yang menghiasi wajah, ia tersenyum pada Ibu dan mempersilahkan kami masuk.
“Amel, itu Shila. Kamu main gih sama dia.” Suruh Ibu seraya menunjuk ke arah gadis kecil yang sedang duduk bersama boneka-bonekanya.
Aku mengangguk kecil. Lalu berjalan ke arah Shila.
“Aku Amel. Rumahku di sebelah rumahmu,” aku mengulurkan tangan, memperkenalkan diri duluan.
Tak ada respon dari Shila selama beberapa menit, sebelum akhirnya dia membalas uluran tanganku dan tersenyum –memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
Tiba-tiba Shila bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah meja telepon. Diambilnya secarik kertas dan menuliskan sesuatu disana. Setelah itu, dia memberikan kertasnya padaku. Tertulis disana:
Aku Shila. Senang berkenalan denganmu. Maaf aku harus menulis dulu saat kita ingin bicara. Yuk, kita main boneka sama-sama!
Aku melihat kearahnya. Dengan Shila yang memberikan sebuah boneka beruangnya padaku.
Saat aku ingin bertanya –mengapa ia tak bicara saja– telingaku menangkap samar topik pembicaraan Ibu dengan Tante Kia, mamah Shila.
“Saya dengar, Shila suka menulis. Apa yang membuatnya mempunyai hobi itu?” tanya Ibu.
Helaan nafas berat terdengar dari bibir Tante Kia, “Shila bisu sejak lahir. Jadi hanya tulisan yang dapat ia jadikan perantara untuk mengungkapkan perasaannya.”
Kini giliran Ibu yang menarik nafas beratnya.
Saat itu juga aku mengerti apa arti menutup diri dan alasan mengapa Shila harus menulis dulu jika kami ingin bicara.
Ia bisu.
Untuk arti kata yang satu ini, aku tak perlu mencari tahu. Aku pernah menonton film bahwa orang yang bisu tak dapat bicara. Dan sekarang orang itu benar-benar ada di depanku!
Mungkin, kebisuan Shila membuat dirinya malu untuk bermain bersama anak-anak lain. Sehingga, ia hanya duduk di teras rumahnya sambil sesekali tersenyum. Mungkin, Shila iri pada kami. Ia takut untuk tak mendengar tawanya seperti kami mendengar tawa kami. Ia terlalu takut untuk mendengar dunia yang menertawakan kebisuannya. Satu perbedaan fisik telah menjadikannya benar-benar berbeda.
Ku tatap wajah manis di depanku ini. Sadar sedang diperhatikan, Shila menatap balik ke arahku. Kemudian ia tersenyum. Mengayunkan tangan bonekanya, menuntut agar permainan segera di mulai. Aku menurut saja. Tanpa suara, kami bermain bersama.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam. Adzan Magrib pun telah berkumandang menyerukan panggilan. Ini waktunya pulang. Aku pamit pada Shila dan berkata padanya bahwa besok aku akan berkunjung lagi. Matanya berbinar sekali waktu itu, diikuti Tante Kia yang tersenyum simpul.
Di perjalanan pulang, aku bergumam sendirian, “Benar kata Kakak, bahagia memang sederhana. Mencoba mencari kunci diri untuk Shila sehingga ia tak takut lagi pada dunia, contohnya.” dengan kakiku yang melengang riang sampai masuk rumah.
Aku segera ke kamar dan menceritakan pertemananku dengan Shila pada buku harian.
Tanganku mulai menari disana.
Minggu, 03 Febuari 2013.
22:36
Jumat, 25 Januari 2013
Hopelist or Hopeless?:')
Kata
orang aku ceria.
Jadi,
kalau aku terlihat sedang bersedih, aku akan cerita. Pada beberapa orang yang
aku percaya. Maka, orang-orang itu milihat diriku dari sisi yang berbeda, bukan
dari aku yang biasa. Kadang mereka serentak berkata, “ini bukan lo,” atau “gue
gak nyangka lo sedramatis ini,” serta ungkapan-ungkapan lain yang hanya kubalas
dengan senyum terpaksa.
Sekarang,
akan aku ceritakan pada kalian. Akan aku perlihatkan bagaimana aku menjadi
sosok yang berbeda. Guruku pernah berkata seperti ini, “jika kalian punya
impian. Maka tulis, tulis, dan tulis. Lalu tempelkan itu pada dinding kamar
kalian. Karena itu salah batu loncatan harapan.”
Ini
mungkin hanya tentang harapan-harapan yang dapat ku tulis tanpa pernah tahu
kapan akan kurealisasikan.
Aku
suka menulis. Jadi hal yang ada pada puncak harapanku adalah menjadi penulis.
Kenapa aku suka menulis? Karena kata akan mewakilkan suara. Tanpa bising –karna
aku suka hening. Orang-orang akan merasakan apa yang aku rasakan, tanpa harus
mendengarkan teriakan dari suaraku yang cempreng ini. menulis membuat seluruh
ragaku mendengarkan celotehan alam, menulis membuatku tenang, dan menulis
membuatku ada. Tulisan adalah muntahan perasaan diam.
Tapi,
tulisanku disini hanya tulisan. Hanya hobi yang akan terus kusalurkan.
Kedua,
aku suka fisika. Harapanku selanjutnya adalah lulus dengan nilai fisika diatas
8. Fisika menghilangkan rasa pusing pada otakku. Fisika adalah pelampiasan.
Sesuatu yang hanya akan diam jika aku berteriak pada deretan rumusnya. Yang
hanya akan mendengarkan tanpa mengeluh. Fisika membuatku melihat kenangan yang
dibuat alam.
Tak
jarang fisika membuatku menangis. Bertekuk lutut pada soal yang tak bisa aku
selesaikan. Tapi itu yang namanya hidup, kan? Kau harus menemui kesulitan untuk
mencapai puncak. Jadi, aku akan terus menyukai fisika. Sampai kapanpun.
Aku
juga suka mendengarkan. Jadi, terkadang ada sebersit harapan untuk menjadi
psikolog. Kalian tau mengapa Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut?
Karena Dia menyuruh makhluk-Nya untuk lebih mendengarkan daripada berbicara.
Namun pada kenyataannya, manusia lebih suka menceritakan daripada mendengarkan
cerita orang. Aku juga seperti itu, tapi aku suka mendengarkan. Saat seseorang
menceritakan apa yang dia rasakan, aku seperti menjadi bagian darinya. Aku
merasakan apa yang dia rasakan. Sesederhana itu –aku senang menjadi pendengar.
Terakhir,
yang menjadi bagian paling bawah pada list harapanku, aku ingin dicintai. Oleh
siapapun. Jika dicintai oleh orang yang aku cintai, anggap saja itu bonus. Aku
ingin membuat semua orang bersemangat saat melihat ceria itu terpancar pada
wajahku. Meski itu hanya pura-pura. Tak apa. Yang penting mereka bahagia dan
aku dicintai. Itu saja.
Selesai.
Kalian
akan menemukan banyak kata “tapi” pada tulisanku kali ini. Karena memang,
-seperti kata Dee, realistis dan idealis beda tipis!
Bye!
Sampai ketemu di tulisanku selanjutnya.Jum'at, 25-Januari-2013
13:05 di Ruang Akademik.
Kamis, 24 Januari 2013
Teriakan Kesabaran
Teriakan Kesabaran
Adaptasi terjemahan Q.S Al-Baqarah
152-156
/1/
Deru tembakan
Julangnya sampai ke awan
Meneriakkan para pahlawan
Namanya akan tenggelam:
Kelam
/2/
Dari bentangan langit biru
Kujumpai bayang itu
Mendatangkan resah
Pada jejantung tanah basah
/3/
Senja menenggelamkan nama
Bersama warna jingganya
Sedang aku hanya merana
Pada jejak yang menjadikan
Mereka tiada
/4/
Di keheningan malam
airmata doa mengalir tiba-tiba
mendatangkan bahtera sabar
Pada setiap altar malam
Ketika mereka kembali;
Pada cahaya Illahi.
Tujuan: Negeri Senja
oleh: Seno Gumira Ajidarma
Di stasiun Tugu, Yogyakarta, ada sebuah loket
yang istimewa. Loket itu tidak menjual tiket ke Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Tempatnya terpisah dan nampaknya selalu sepi pembeli. Padahal di masa krisis
seperti sekarang, kereta api menjadi pilihan utama, meskipun harga tiketnya
sangat mahal. Apa boleh buat, karena tiket pesawat luar biasa mahal, dan
boleh dibilang tidak masuk akal, harga tiket kereta api yang mahal itu bukan
apa-apa. Para penumpang dari Jakarta langsung antri untuk mendapatkan tiket
kembali. Itupun barangkali untuk seminggu mendatang. Boleh dipastikan, tiket
untuk akhir minggu sudah ludes seminggu sebelumnya. Loket-loket itu selalu
penuh dengan pengantri.
Makanya aneh sekali loket yang satu itu selalu
sepi. Loket itu hanya menjual tiket ke satu tujuan, yakni Negeri Senja.
Setiap sore memang selalu ada kereta
api jurusan Negeri Senja yang datang. Tetapi tidak pernah ada kereta api
datang dari Negeri Senja.
”Mereka yang pergi ke Negeri Senja, tidak
pernah kembali” kata penjaga loket.
Jadi mereka yang membeli tiket ke Negeri Senja
pasti sudah siap untuk tidak kembali.
Aku heran,
bagaimana semua ini mungkin?
Tapi orang-orang di stasiun Tugu sudah terbiasa
dengan kenyataan itu. Aku baru tahu sekarang, karena selama ini aku mondar-mandir
Jakarta-Jogja selalu menggunakan pesawat terbang.
Setiap sore selalu muncul kereta api ke jurusan
Negeri Senja. Kereta api berwarna perak itu muncul begitu saja dari arah kali
code dengan pancaran cahayannya yang gilang gemilang, seolah-olah seperti
sebuah kereta kerajaan entah darimana. Kereta api ini bukan kereta api diesel,
melainkan lokomotif biasa yang selalu mendengus-ndengus, tapi kereta api ini
memang sangat menawan. Gerbong-gerbongnya bagaikan dibuat di negeri dongeng.
Bukan hanya karena mengkilap keperakan, tapi juga karena dari jendela kita bisa
melihat sebuah dunia yang tidak mungkin. Didalam gerbong-gerbong itu kita
melihat alam terbentang yang komplet. Sebuah padang rumput dengan danau yang
tenang di mana angsa berenang-renang menyibakkan permukaanya. Kuda-kuda yang
muncul dari celah lembah dan berlari mendaki bukit. Hutan tropis yang basah
dengan bau humus dan nyanyian burung sahut menyahut. Bahkan terlihat pula alam
bawah laut yang biru, gelap dan dalam, dengan ikan-ikan yang tubuhnya
mengeluarkan cahaya.
Tapi jarang sekali orang naik dari stasiun Tugu
ke dalam gerbong-gerbong itu, meskipun pramugarinya yang siap di pintu begitu
cantik dan begitu jelita tiada terkira, dengan tubuh dan rambut yang bagaikan
selalu meruapkan bau malam. Kanak-kanak yang berlarian di padang rumput atau
taman bermain kadang-kadang berlari sampai ke jendela, menempelkan hidung dan
pipinya ke jendela, melihat orang-orang di stasiun Tugu, tapi mereka segera
berlarian kembali.
Hanya lima menit kereta api itu berhenti,
setelah itu segera berangkat lagi. Setiap sore selalu muncul kereta api itu,
ada atau tidak ada penumpang ia akan berhenti. Para pramugari turun dan siap di
pintu, kalau tidak ada penumpang, kereta api akan berangkat lagi setelah
terdengar suara peluit dari petugas, meninggalkan asap batubaranya itu, yang
berkepul kepul ke langit. Selalu terdengar lengkingannya dari kejauhan ketika
kerata api itu menghilang.
Setiap kali aku ke Jogya dan pulang ke Jakarta
dengan kereta api senja, ku perhatikan kereta api jurusan Negeri Senja itu.
Siapa yang ingin pergi untuk tidak kembali? Ternyata kadang-kadang ada. Tidak
pernah banyak, paling banter lima orang. Kadang-kadang cuma satu atau dua
orang. Mereka itu, meskipun pergi utnuk tidak kembali, tidak pernah membawa
banyak barang.
”Berapa harga tiket ke sana?”
”Oh, tidak perlu bayar.”
”Jadi?”
”Mereka yang datang ke loket ini cuma perlu
tandatangan.”
”Tandatangan apa?”
”Artinya mereka setuju untuk tidak kembali.”
”Kalau mereka berubah pikiran, dan ingin
kembali dari sana?”
”Tidak mungkin, dan tidak pernah terjadi.”
”Seperti apa Negeri Senja itu?”
”Tidak ada yang pernah tahu.”
”Lho, waktu membangun rel itu, sampai kemana?”
”Wah, rel itu sudah ada sejak stasiun ini belum
berdiri. Tidak ada catatan apa-apa tentang hal itu, dan memang tidak pernah ada
yang tahu.”
”Aneh sekali.”
”Ah, orang sini sudah biasa. Adik saja yang
sibuk bertanya-tanya.”
”Aneh, orang tidak kembali kok biasa.”
”Apanya yang aneh? Ini kan cuma seperti
kematian. Apa yang aneh dengan kematian?”
Apakah memang begitu? Apakah kita tidak perlu
merasa heran dan tidak perlu bertanya-tanya hanya karena sesuatu memang tidak
akan pernah kita ketahui? Kematian, kematian, hal itu memang penuh misteri.
Namun bukankah kereta api ini bisa di kuntit lantas kita kembali lagi?
”Bagaimana kalau saya tandatangan, tapi
tujuannya hanya untuk melihat-lihat Negeri Senja, setelah itu kembali lagi. ”
”Boleh saja, asal siap untuk tidak kembali.”
”Kalau saya lari.”
”Coba saja.”
Beranikah aku mencobanya? Aku hampir selalu
pergi, selalu pergi dari satu tempat ke tempat lain, tapi selalu kembali. Aku
selalu pergi dan tahu akan kembali. Itulah sebabnya aku bisa selalu pergi,
karena memang selalu akan kembali. Tapi pergi untuk tidak kembali?
”Seperti apa sih di sana?”
”Lho, mana kita tahu.”
Aku penasaran sekali sekarang. Setiap kali
kulihat kereta api itu datang, kuperhatikan para penumpangnya. Memang wajahnya
sudah terlihat pasrah. Siap pergi ke suatu tujuan tanpa membayangkan akan
pernah kembali. Kadang-kadang ada satu keluarga yang pergi bersama seperti mau
piknik. Orang-orang yang mengantar banyak yang menangis.
”Jangan lupakan aku ya?” teriak mereka sambil
melambai-lambaikan tangan.
Orang-orang yang berangkat selalu tersenyum
bahagia.
”Aku tidak akan pernah melupakan kamu. Jangan
lupakan aku juga ya!”
Begitulah meraka melambai-lambai sampai kereta api menghilang di balik cakrawala. Rel menuju ke Negeri Senja memang khusus. Mula-mula memang searah dengan rel ke jurusan Jakarta, tapi disuatu tempat akan memisah. Berbelok ke celah sebuah lembah, lantas lenyap di balik kabut. Orang-orang seperti sudah mengerti untuk tidak usah coba-coba menyelidik – kecuali jika siap untuk tidak kembali. Setiap orang yang pergi ke Negeri Senja memang tidak pernah kembali. Kecuali barangkali di dalam mimpi mereka yang di tinggalkan.
Begitulah meraka melambai-lambai sampai kereta api menghilang di balik cakrawala. Rel menuju ke Negeri Senja memang khusus. Mula-mula memang searah dengan rel ke jurusan Jakarta, tapi disuatu tempat akan memisah. Berbelok ke celah sebuah lembah, lantas lenyap di balik kabut. Orang-orang seperti sudah mengerti untuk tidak usah coba-coba menyelidik – kecuali jika siap untuk tidak kembali. Setiap orang yang pergi ke Negeri Senja memang tidak pernah kembali. Kecuali barangkali di dalam mimpi mereka yang di tinggalkan.
Setiap senja kuamati peron dimana orang-orang
yang siap berangkat ke Negeri Senja menunggu kereta api. Mereka datang, dengan
tenang menuju loket, tandatangan lantas duduk tenang-tenang di bangku itu.
Matahari senja yang keemasan membuat lantai peron itu seperti susunan tegel
yang terbuat dari lantakan emas. Orang-orang yang duduk dibangku, laki-laki
tua, ibu dan anak, nenek-nenek, atau seorang pemuda remaja berambut punk,
nampak begitu tenang dan begitu pasrah wajahnya – seperti mengalami kebahagian
yang mengatasi keduniawian. Apa yang membuat seseorang pergi untuk tidak
kembali?
Aku ingin bertanya kepada salah seorang
diantara orang-orang itu, tapi peron itu khusus untuk pemegang tiket ke
Negeri Senja. Aku hanya bisa memandang mereka, seperti juga orang-orang
lain di stasiun Tugu, memandang orang-orang yang berubah menjadi siluet dalam
pancaran matahari keemasan yang menyilaukan. Dalam siluet senja mereka seperti
bergerak antara ada dan tiada. Membawa kopor kecil, ransel, dan menelpon
kesana-kemari dengan HP. Apakah mereka berpamitan kepada orang-orang tercinta?
Apakah dari Negeri Senja kita tidak bisa menelpon?
Apakah negeri senja itu indah? Tidak ada satu
kabar burung pun dari sana. Tidak ada pengenalan apa-apa yang membuat kita
paling sedikit bisa mengira-ngira meskipun barangkali salah sama sekali. Tidak
ada apapun yang bisa di pegang meskipun sekedar untuk menduga-nduga saja. Hanya
nama itu saja, Negeri Senja. Apalah yang bisa kutebak dari nama itu?
Kupandang seorang wanita yang akan berangkat
kesana. Ia melangkah dengan anggun seperti bidadari. Dalam cahaya keemasan
rambutnya yang panjang dan bergelombang memberikan suatu rasa kebahagiaan yang
aneh tapi abadi. Padahal kebahagiaan itu biasanya fana, sementara, sehingga
kadang-kadang terasa sia-sia.
Apakah negeri senja menjanjikan suatu
kebahagiaan abadi? Sebegitu jauh, orang-orang yang datang ke stasiun ini lebih
banyak yang memilih pergi ke Jakarta daripada ke Negeri Senja. Banyak
diantaranya juga pergi ke jakarta untuk memburu kebahagiaan, memburu mimpi,
memburu cita-cita yang terhampar di cakrawala – meskipun Jakarta sering terasa
seperti neraka.
Di stasiun Tugu, aku termenung memandang senja.
Kereta api yang gilang gemilang dengan tujuan Negeri Senja itu tiba. Kalau aku
menaiki kereta api itu, aku tidak akan pernah kembali.
Jakarta, Senin 17 Agustus 1998
Selasa, 01 Januari 2013
Sederet Bintang untuk Anak-Anak Libanon (part1)
5 KEKUATAN DARI TUHAN
:deret kata untuk seseorang di Libanon:
5 hari sebelum
natal....
Salju semakin menyapa hangat
beberapa belahan dunia. Membuat semangat matahari harus segera mengalah pada
butiran-butiran kapas dari langit. Sementara kalender di meja belajar Letisha
terus tersenyum sepanjang hari –tak sabar ingin menyambut natal yang sudah ada
di depan mata, Letisha hanya menyoret deret angkanya dengan spidol merah tanpa
gairah. Semakin dekat pada tanggal 25 Desember, Letisha, semangatnya semakin
menguap.
Ada yang hilang. Mungkin hanya 3
deret kata itu yang membuat semangat Letisha menjadi tak sama. Biasanya
seminggu sebelum hari Natal ia bahkan sudah akrab dengan pohon cemara. Menghias
setiap dahannya menjadi cantik. Menaruh bintang pada puncak tertingginya. Atau
apapun –yang membuat Letisha semangat menyambut natal.
DUAAAAR!!! DUAAAARR!!
Suara itu lagi. Tanpa pikir panjang,
Letisha segera meringkuk di bawah meja. Menutup telinga dan matanya kuat-kuat,
menahan segala gemuruh yang di bawa oleh angin lewat deru tembakan. Ia sudah
terbiasa seperti ini, setidaknya beberapa bulan terakhir semenjak Israel memutuskan
mengadakan perang saudara dengan Libanon, tempat kelahirannya.
Letisha menghela nafas berat, suara
menyeramkan itu sudah tak terdengar. Lantas ia keluar dari bawah meja, menatap
langit-langit kamar, mengirimkan doa pada Tuhan.
Tuhan, aku
hanya ingin diberi kekuatan menjelang natal. Walaupun hanya untuk pura-pura tak
mendengar deru tembakan yang julangnya sampai ke awan.
Kemudian Letisha memejamkan matanya.
4 hari sebelum
natal...
Letisha bangun pagi-pagi sekali hari
ini. Sesaat setelah membuka mata, Letisha berjalan ke arah jendela kamarnya,
membukanya perlahan, dan menghirup sisa udara segar yang masih disediakan alam
untuknya. Matanya memejam –terfikir kapan terakhir kali ia mendengar ayam
berkokok untuk menyapa pagi. Atau burung yang bernyanyi bersama embun diujung
dahan sana. Sekarang semuanya tak lagi sama.
Terlalu banyak kenangan pahit yang
menghampiri hidup Letisha di Libanon akhir-akhir ini. Ia bahkan tak ingat kapan
burung diujung dahan sana bernyanyi pada pagi. Sekarang yang Letisha dengar
hanya deru tembakan, suara teriakan orang-orang, dan berita kematian. Semuanya
terus seperti itu. Tak berhenti berputar seperti waktu.
“Ayah belum pulang, Bu?” tanya
Letisha sambil meneguk susu kotaknya.
Ibu hanya diam saja dengan pandangan
kosong. Ada rasa yang tertahan dibalik nanar matanya. Ada kata yang tak terucap
dibalik bibirnya.
“Bu...” Letisha lantas mendekati
ibunya. Memegang perlahan bahu beliau.
Ibu menatap Letisha, kemudian
memeluknya. Beliau sesenggukan diatas tubuh putrinya. Belum ada satu kata pun
yang keluar. Letisha terus menunggu.
Lama, Ibu berhenti menangis. Sambil
masih menatap nanar kepada Letisha, beliau berkata pelan, “Ayahmu gugur, Nak.”
Hanya itu. Letisha tak perlu
penjelasan apa-apa lagi setelahnya. Ia tau saat ini akan tiba. Ayahnya
–seseorang yang bukan dari anggota perang, melepaskan dirinya untuk menjadi relawan
beberapa bulan lalu. Ibu dan Letisha sempat tak setuju, tapi beliau tetap
bersikukuh untuk menjalaninya. Membela negara, katanya.
Dan Letisha tak pernah menyangka
saat itu benar-benar terjadi.
Ayahnya gugur saat keluar dari
tempat persembunyiaannya. Mencoba bermaksud melawan Israel, namun takdir
membawanya pada arah lain.
Seekor kupu-kupu putih hinggap pada tangan Letisha. Membuatnya
tersadar dai lamunan dan segera menyeka air mata yang sejak tadi menari di
pipinya. Ia merindukan ayah. Sosok yang selalu mendekapnya saat deru tembakan
itu terdengar. Sosok yang ada disampingnya saat ia merasa takut. Sosok yang
percaya bahwa Letisha akan menggapai bintangnya seperti bintang di atas pohon
natal.
Letisha merindukan Ayah.
“Letisha, apakah kau sudah bangun?”
Ibu mengetuk pintu kamar dengan pelan.
Tanpa menjawab, Letisha segera
beranjak dari tempatnya mengulang masa lalu tadi. Ia membukakan pintu untuk
ibunya, “Selamat pagi, Bu.” Ucap Letisha sambil tersenyum dan mencium Ibu.
“Pagi. Bagus jika kau sudah bangun. Ayo
turun kebawah, bantu ibu membuat kue.”
Letisha mengangguk dan mengikuti Ibu.
Saat menjelang natal, keluarga Letisha selalu membuat kue jahe. Kue berbentuk
boneka manusia yang terbuat dari adonan terigu dan sedikit jahe ini adalah
kesukaan turun-temurun keluarganya. Kue ini seakan menjadi santapan wajib untuk
lebih menghangatkan suasana natal.
Letisha segera mengambil bahan-bahan
yang diperlukan ibu untuk membuat kue jahenya. Sedang ibu terus mengocok adonan
dengan telaten, Letisha memandangnya sejenak. Masih ada rindu pada nanar mata Ibu.
Mungkin beliau masih belum terbiasa menjalankan hari-harinya tanpa ayah. Dulu,
selama menjelang natal ayah selalu meliburkan diri dari kantor hanya untuk
mempunyai waktu lebih lama dengan keluarganya. Ayah selalu membantu ibu dan
Letisha untuk membuat kue jahe bersama-sama. Ayah selalu menghias pohon natal.
Ayah selalu ada saat natal sebelum natal tahun ini menjelang.
“Sha, tolong tambahkan jahenya
lagi,” ibu kembali menyadarkan lamunan Letisha.
Ia segera memenuhi permintaan ibunya.
Kemudian berkata lirih, “ini tahun pertama ayah gak buat kue bareng kita bu.”
Ibu menghentikan gerakannya. Menatap
Letisha. Ia tahu, seorang anak pasti merindukan saat indah bersama ayahnya.
Namun Ibu tak dapat berbuat apa-apa, selain mendekap erat putrinya. “sudahlah,
Nak. Jangan terus mengungkit jika kau tak ingin terus merasa kehilangan.
Ikhlaskan. Biarkan ayahmu bahagia dengan jalan yang telah mengantarkannya
kembali pada Tuhan.”
Letisha tak menggubris ucapan
ibunya. Walaupun dalam hati ia harus membenarkan kata-kata beliau. Tapi ia merindukan
Ayah. Jadi ia hanya merangkai sebuah doa dalam dekapan ibundanya.
Tuhan, aku ingin kuat seperti
Ibu. Yang tidak memperlihatkan rasa kehilangannya. Beri aku kekuatan itu,
Tuhan. Meski lewat airmata yang sesekali membasahi wajah saat aku rindu Ayah.
Letisha terus mendekap ibunya. Lebih erat.
Langganan:
Postingan (Atom)