Kamis, 14 Februari 2013

(semacam) Catatan Kecil Penghantar Tidur

Tiba-Tiba Ada Lagi
   Sudah lama sekali rasanya aku tidak bercengkrama dengan sastra. Tak memeluk kata agar ia dapat menyatu dengan ragaku. Tak mencoba berlari mengejar inspirasi yang datang lalu seenaknya pergi. Aku hanya diam saja disini; tak melakukan apa-apa.
   Sampai kemudian, rasa itu datang lagi.
   Aku sedang berbaring di tempat tidurku. Menunggu mataku terpejam. Lalu tiba-tiba inspirasi itu datang. Mereka tak cepat pergi justru berterbangan di atas kepalaku banyak sekali. Seperti kupu-kupu. Indah. Mungkin mereka minta di tangkap.
   Jadi aku menangkap satu.
   Aku simpan di bawah bantal, untuk kapan-kapan akan aku ambil sebagai kopi hangat diantara percakapanku dengan sastra. Mungkin, siapa tahu?
12-02-2013
21:18

Tiga Kenyataan
   Akan kutuliskan tiga kenyataan yang -semoga- dapat membuatmu melihat ke arahku sebentar saja.
   Kenyataan pertama adalah bahwa aku mencintaimu. Tak perlu banyak alasan untuk mengutarakan ini. Karena kebanyakan cinta hadir tanpa alasan yang pasti. Aku hanya senang memotret setiap tindakan yang kau lakukan lalu memutarnya kembali saat aku akan terlelap. Semacam lagu penghantar tidur. Setelah itu, aku akan menemukan diriku tersenyum sendirian.
   Kenyataan kedua adalah bahwa aku selalu menjadi orang lain. Aku iri terhadap mereka yang -dulu- dengan mudah mengatakan rindu padamu tanpa malu-malu; sedang aku harus menuliskan rindu itu pada sajak setiap malam. Secara diam-diam. Tanpa tahu kapan kau akan membacanya.
   Kenyataan terakhir adalah bahwa aku adalah arah yang membawamu kembali ke jalan pulang. Aku yang banyak berjuang untuk mendapatkan sedikit penerangan darimu. Lihatlah kemari sebentar, Sayang. Aku telah banyak berjuang untuk mendapatkan sedikit perhatian. Darimu.
13-02-2012
20:45

Wangi Hujan
   Wangi hujan semalam masih terasa. Dari tempatmu, dia mengetuk-ngetukkan rindu yang sudah lama usang oleh waktu. Di tempatku, dia menuliskan cerita yang takkan pernah habis kita baca.
   Wangi hujan lalu jatuh; menyerbak setiap kenangan yang telah kau simpan rapi dalam lemari. Dan angin membawakannya untukku. Untuk kita jenguk sekali. Kemudian pergi.
13-01-2013
22:30

Percakapan Dalam Kamar
   Ponsel itu lagi-lagi memperdengarkan musik dari mulutnya. Semakin lama semakin keras. Semakin menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Sedangkan si empunya ponsel hanya diam saja disana; diantara air mata yang bercerita kepada bantal kamar. Semakin lama semakin keras. Semakin menyayat hati siapapun yang melihatnya.
   "Kenapa lagi dia?" bisik salah satu novel di ujung rak belajar.
   Yang lain hanya mengangkat bahu, acuh tak acuh.
   "Kasian ya. Juragan kita tak pernah bahagia sepertinya," kini isi mading yang geleng-geleng.
   "Sudahlah, biarkan saja catatan kecil dalam ponsel yang mengetahui apa yang terjadi kali ini. Lebih baik kita tidur saja." setelah itu hanya hening yang bercengkrama dengan ponsel yang masih menyala.
   Tuhan, tak adakah sedikit ruang kebahagiaan untukku? Mengapa lagi-lagi pengkhianatan?
   Si empunya berbisik pada catatan kecil. Sedang matanya kini terlelap dengan luka yang belum juga terusap.
   "Semoga Tuhan memberikan kekuatan lewat tulisannya malam ini."
   Bantal hanya mengangguk sambil terus mengusap air mata yang tak mau juga menjadikan dirinya tiada.
24-12-2012
21:24

Selasa, 05 Februari 2013

Sebaris Kata dalam Kata


Sebaris kata itu hidup dalam kata. Karena selalu berdampingan dengan kata, maka aneh bila suatu hari ia tak ada.
            Malam telah menggelar altarnya pada dunia. Ditemani hujan dan nyanyian rintiknya, jemariku bermain pada tuts komputer usang karena telah lama aku tinggali. Kini, kugali lagi sisa-sisa sebaris kata itu yang –mungkin– masih tersimpan rapi dalam kata.
Aku akan mencoba. Sekuat dan semampu yang aku bisa.
            Jam berdetak lebih cepat.
            Jantung kian berkejaran dengan waktu.
            Jemariku masih asik bermain pada tuts komputer; sedang sesekali hujan menyuruh untuk lebih cepat menemukan sebaris kata itu.
            Kemudian tiba-tiba gelap.
            Kini gantian air mataku yang bermain pada tuts komputer.

Selasa, 05 Februari 2013
21:53

Senin, 04 Februari 2013

KUNCI UNTUK SHILA

KUNCI UNTUK SHILA

Kata Kakak, bahagia itu sederhana.
            Namaku Camelia Jelita, umurku baru menginjak 10 tahun. Aku belum mengerti betul apa itu sederhana –saat aku tanya pada Ayah, beliau bilang sederhana berarti tidak berlebih-lebihan; merasa cukup. Jadi, aku ambil kesimpulan bahwa bahagia yang sederhana adalah kebahagiaan yang dicapai melalui hal-hal kecil.
            Sampai akhirnya, aku bertemu dengan Shila.
            Shila adalah tetangga baru sebelah rumah. Umurnya sama denganku. Tetapi, dia berbeda dengan anak-anak lain. Saat kami semua bermain di luar rumah, Shila hanya duduk di depan teras dengan buku dalam genggamannya. Pernah waktu itu aku melihatnya sedang menulis, atau ketahuan sedang tersenyum melihat kelakuan teman-temanku.
            Saat aku tanya pada Kakak mengapa ia tak pernah keluar rumah, kakak bilang Shila menutup diri. Lagi-lagi aku tidak tahu apa artinya itu, tapi aku bermaksud mencari kuncinya. Jadi, saat kalender menunjuk pada tanggal 2 Agustus, sore harinya aku mengajak Ibu ke rumah Shila.
            Rumah Shila tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Pagarnya berwarna abu dengan cat rumah senada. Ibu mengetuk pintu depan dengan aku yang berada disampingnya.
            Saat pintu dibuka, tampak seorang wanita cantik berdiri disana. Dengan keriput yang menghiasi wajah, ia tersenyum pada Ibu dan mempersilahkan kami masuk.
            “Amel, itu Shila. Kamu main gih sama dia.” Suruh Ibu seraya menunjuk ke arah gadis kecil yang sedang duduk bersama boneka-bonekanya.
            Aku mengangguk kecil. Lalu berjalan ke arah Shila.
            “Aku Amel. Rumahku di sebelah rumahmu,” aku mengulurkan tangan, memperkenalkan diri duluan.
            Tak ada respon dari Shila selama beberapa menit, sebelum akhirnya dia membalas uluran tanganku dan tersenyum –memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
            Tiba-tiba Shila bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah meja telepon. Diambilnya secarik kertas dan menuliskan sesuatu disana. Setelah itu, dia memberikan kertasnya padaku. Tertulis disana:
            Aku Shila. Senang berkenalan denganmu. Maaf aku harus menulis dulu saat kita ingin bicara. Yuk, kita main boneka sama-sama!
            Aku melihat kearahnya. Dengan Shila yang memberikan sebuah boneka beruangnya padaku.
            Saat aku ingin bertanya –mengapa ia tak bicara saja– telingaku menangkap samar topik pembicaraan Ibu dengan Tante Kia, mamah Shila.
            “Saya dengar, Shila suka menulis. Apa yang membuatnya mempunyai hobi itu?” tanya Ibu.
            Helaan nafas berat terdengar dari bibir Tante Kia, “Shila bisu sejak lahir. Jadi hanya tulisan yang dapat ia jadikan perantara untuk mengungkapkan perasaannya.”
            Kini giliran Ibu yang menarik nafas beratnya.
            Saat itu juga aku mengerti apa arti menutup diri dan alasan mengapa Shila harus menulis dulu jika kami ingin bicara.
            Ia bisu.
            Untuk arti kata yang satu ini, aku tak perlu mencari tahu. Aku pernah menonton film bahwa orang yang bisu tak dapat bicara. Dan sekarang orang itu benar-benar ada di depanku!
            Mungkin, kebisuan Shila membuat dirinya malu untuk bermain bersama anak-anak lain. Sehingga, ia hanya duduk di teras rumahnya sambil sesekali tersenyum. Mungkin, Shila iri pada kami. Ia takut untuk tak mendengar tawanya seperti kami mendengar tawa kami. Ia terlalu takut untuk mendengar dunia yang menertawakan kebisuannya. Satu perbedaan fisik telah menjadikannya benar-benar berbeda.
            Ku tatap wajah manis di depanku ini. Sadar sedang diperhatikan, Shila menatap balik ke arahku. Kemudian ia tersenyum. Mengayunkan tangan bonekanya, menuntut agar permainan segera di mulai. Aku menurut saja. Tanpa suara, kami bermain bersama.
            Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam. Adzan Magrib pun telah berkumandang menyerukan panggilan. Ini waktunya pulang. Aku pamit pada Shila dan berkata padanya bahwa besok aku akan berkunjung lagi. Matanya berbinar sekali waktu itu, diikuti Tante Kia yang tersenyum simpul.
            Di perjalanan pulang, aku bergumam sendirian, “Benar kata Kakak, bahagia memang sederhana. Mencoba mencari kunci diri untuk Shila sehingga ia tak takut lagi pada dunia, contohnya.” dengan kakiku yang melengang riang sampai masuk rumah.
            Aku segera ke kamar dan menceritakan pertemananku dengan Shila pada buku harian.
            Tanganku mulai menari disana.

Minggu, 03 Febuari 2013.
22:36

Jumat, 25 Januari 2013

Hopelist or Hopeless?:')


Kata orang aku ceria.
Jadi, kalau aku terlihat sedang bersedih, aku akan cerita. Pada beberapa orang yang aku percaya. Maka, orang-orang itu milihat diriku dari sisi yang berbeda, bukan dari aku yang biasa. Kadang mereka serentak berkata, “ini bukan lo,” atau “gue gak nyangka lo sedramatis ini,” serta ungkapan-ungkapan lain yang hanya kubalas dengan senyum terpaksa.
Sekarang, akan aku ceritakan pada kalian. Akan aku perlihatkan bagaimana aku menjadi sosok yang berbeda. Guruku pernah berkata seperti ini, “jika kalian punya impian. Maka tulis, tulis, dan tulis. Lalu tempelkan itu pada dinding kamar kalian. Karena itu salah batu loncatan harapan.”
Ini mungkin hanya tentang harapan-harapan yang dapat ku tulis tanpa pernah tahu kapan akan kurealisasikan.
Aku suka menulis. Jadi hal yang ada pada puncak harapanku adalah menjadi penulis. Kenapa aku suka menulis? Karena kata akan mewakilkan suara. Tanpa bising –karna aku suka hening. Orang-orang akan merasakan apa yang aku rasakan, tanpa harus mendengarkan teriakan dari suaraku yang cempreng ini. menulis membuat seluruh ragaku mendengarkan celotehan alam, menulis membuatku tenang, dan menulis membuatku ada. Tulisan adalah muntahan perasaan diam.
Tapi, tulisanku disini hanya tulisan. Hanya hobi yang akan terus kusalurkan.
Kedua, aku suka fisika. Harapanku selanjutnya adalah lulus dengan nilai fisika diatas 8. Fisika menghilangkan rasa pusing pada otakku. Fisika adalah pelampiasan. Sesuatu yang hanya akan diam jika aku berteriak pada deretan rumusnya. Yang hanya akan mendengarkan tanpa mengeluh. Fisika membuatku melihat kenangan yang dibuat alam.
Tak jarang fisika membuatku menangis. Bertekuk lutut pada soal yang tak bisa aku selesaikan. Tapi itu yang namanya hidup, kan? Kau harus menemui kesulitan untuk mencapai puncak. Jadi, aku akan terus menyukai fisika. Sampai kapanpun.
Aku juga suka mendengarkan. Jadi, terkadang ada sebersit harapan untuk menjadi psikolog. Kalian tau mengapa Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut? Karena Dia menyuruh makhluk-Nya untuk lebih mendengarkan daripada berbicara. Namun pada kenyataannya, manusia lebih suka menceritakan daripada mendengarkan cerita orang. Aku juga seperti itu, tapi aku suka mendengarkan. Saat seseorang menceritakan apa yang dia rasakan, aku seperti menjadi bagian darinya. Aku merasakan apa yang dia rasakan. Sesederhana itu –aku senang menjadi pendengar.
Terakhir, yang menjadi bagian paling bawah pada list harapanku, aku ingin dicintai. Oleh siapapun. Jika dicintai oleh orang yang aku cintai, anggap saja itu bonus. Aku ingin membuat semua orang bersemangat saat melihat ceria itu terpancar pada wajahku. Meski itu hanya pura-pura. Tak apa. Yang penting mereka bahagia dan aku dicintai. Itu saja.
Selesai.
Kalian akan menemukan banyak kata “tapi” pada tulisanku kali ini. Karena memang, -seperti kata Dee, realistis dan idealis beda tipis!
Bye! Sampai ketemu di tulisanku selanjutnya.

Jum'at, 25-Januari-2013
13:05 di Ruang Akademik.

Kamis, 24 Januari 2013

Teriakan Kesabaran


Teriakan Kesabaran
Adaptasi terjemahan Q.S Al-Baqarah 152-156

/1/
Deru tembakan
Julangnya sampai ke awan
Meneriakkan para pahlawan
Namanya akan tenggelam:
Kelam

/2/
Dari bentangan langit biru
Kujumpai bayang itu
Mendatangkan resah
Pada jejantung tanah basah

/3/
Senja menenggelamkan nama
Bersama warna jingganya
Sedang aku hanya merana
Pada jejak yang menjadikan
Mereka tiada

/4/
Di keheningan malam
airmata doa mengalir tiba-tiba
mendatangkan bahtera sabar
Pada setiap altar malam
Ketika mereka kembali;
Pada cahaya Illahi.

Tujuan: Negeri Senja

oleh: Seno Gumira Ajidarma


Di stasiun Tugu, Yogyakarta, ada sebuah loket yang istimewa. Loket itu tidak menjual tiket ke Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Tempatnya terpisah dan nampaknya selalu sepi pembeli. Padahal di masa krisis seperti sekarang, kereta api menjadi pilihan utama, meskipun harga tiketnya sangat mahal. Apa boleh buat, karena tiket pesawat luar biasa mahal, dan boleh dibilang tidak masuk akal, harga tiket kereta api yang mahal itu bukan apa-apa. Para penumpang dari Jakarta langsung antri untuk mendapatkan tiket kembali. Itupun barangkali untuk seminggu mendatang. Boleh dipastikan, tiket untuk akhir minggu sudah ludes seminggu sebelumnya. Loket-loket itu selalu penuh dengan pengantri.
Makanya aneh sekali loket yang satu itu selalu sepi. Loket itu hanya menjual tiket ke satu tujuan, yakni Negeri Senja.
Setiap sore memang selalu ada kereta api jurusan Negeri Senja yang datang. Tetapi tidak pernah ada kereta api datang dari Negeri Senja.
”Mereka yang pergi ke Negeri Senja, tidak pernah kembali” kata penjaga loket.
Jadi mereka yang membeli tiket ke Negeri Senja pasti sudah siap untuk tidak kembali.
Aku heran, bagaimana semua ini mungkin?                                            
Tapi orang-orang di stasiun Tugu sudah terbiasa dengan kenyataan itu. Aku baru tahu sekarang, karena selama ini aku mondar-mandir Jakarta-Jogja selalu menggunakan pesawat terbang.
Setiap sore selalu muncul kereta api ke jurusan Negeri Senja. Kereta api berwarna perak itu muncul begitu saja dari arah kali code dengan pancaran cahayannya yang gilang gemilang, seolah-olah seperti sebuah kereta kerajaan entah darimana. Kereta api ini bukan kereta api diesel, melainkan lokomotif biasa yang selalu mendengus-ndengus, tapi kereta api ini memang sangat menawan. Gerbong-gerbongnya bagaikan dibuat di negeri dongeng. Bukan hanya karena mengkilap keperakan, tapi juga karena dari jendela kita bisa melihat sebuah dunia yang tidak mungkin. Didalam gerbong-gerbong itu kita melihat alam terbentang yang komplet. Sebuah padang rumput dengan danau yang tenang di mana angsa berenang-renang menyibakkan permukaanya. Kuda-kuda yang muncul dari celah lembah dan berlari mendaki bukit. Hutan tropis yang basah dengan bau humus dan nyanyian burung sahut menyahut. Bahkan terlihat pula alam bawah laut yang biru, gelap dan dalam, dengan ikan-ikan yang tubuhnya mengeluarkan cahaya.
Tapi jarang sekali orang naik dari stasiun Tugu ke dalam gerbong-gerbong itu, meskipun pramugarinya yang siap di pintu begitu cantik dan begitu jelita tiada terkira, dengan tubuh dan rambut yang bagaikan selalu meruapkan bau malam. Kanak-kanak yang berlarian di padang rumput atau taman bermain kadang-kadang berlari sampai ke jendela, menempelkan hidung dan pipinya ke jendela, melihat orang-orang di stasiun Tugu, tapi mereka segera berlarian kembali.
Hanya lima menit kereta api itu berhenti, setelah itu segera berangkat lagi. Setiap sore selalu muncul kereta api itu, ada atau tidak ada penumpang ia akan berhenti. Para pramugari turun dan siap di pintu, kalau tidak ada penumpang, kereta api akan berangkat lagi setelah terdengar suara peluit dari petugas, meninggalkan asap batubaranya itu, yang berkepul kepul ke langit. Selalu terdengar lengkingannya dari kejauhan ketika kerata api itu menghilang.
Setiap kali aku ke Jogya dan pulang ke Jakarta dengan kereta api senja, ku perhatikan kereta api jurusan Negeri Senja itu. Siapa yang ingin pergi untuk tidak kembali? Ternyata kadang-kadang ada. Tidak pernah banyak, paling banter lima orang. Kadang-kadang cuma satu atau dua orang. Mereka itu, meskipun pergi utnuk tidak kembali, tidak pernah membawa banyak barang.
”Berapa harga tiket ke sana?”
”Oh, tidak perlu bayar.”
”Jadi?”
”Mereka yang datang ke loket ini cuma perlu tandatangan.”
”Tandatangan apa?”
”Artinya mereka setuju untuk tidak kembali.”
”Kalau mereka berubah pikiran, dan ingin kembali dari sana?”
”Tidak mungkin, dan tidak pernah terjadi.”
”Seperti apa Negeri Senja itu?”
”Tidak ada yang pernah tahu.”
”Lho, waktu membangun rel itu, sampai kemana?”
”Wah, rel itu sudah ada sejak stasiun ini belum berdiri. Tidak ada catatan apa-apa tentang hal itu, dan memang tidak pernah ada yang tahu.”
”Aneh sekali.”
”Ah, orang sini sudah biasa. Adik saja yang sibuk bertanya-tanya.”
”Aneh, orang tidak kembali kok biasa.”
”Apanya yang aneh? Ini kan cuma seperti kematian. Apa yang aneh dengan kematian?”
Apakah memang begitu? Apakah kita tidak perlu merasa heran dan tidak perlu bertanya-tanya hanya karena sesuatu memang tidak akan pernah kita ketahui? Kematian, kematian, hal itu memang penuh misteri. Namun bukankah kereta api ini bisa di kuntit lantas kita kembali lagi?
”Bagaimana kalau saya tandatangan, tapi tujuannya hanya untuk melihat-lihat Negeri Senja, setelah itu kembali lagi. ”
”Boleh saja, asal siap untuk tidak kembali.”
”Kalau saya lari.”
”Coba saja.”
Beranikah aku mencobanya? Aku hampir selalu pergi, selalu pergi dari satu tempat ke tempat lain, tapi selalu kembali. Aku selalu pergi dan tahu akan kembali. Itulah sebabnya aku bisa selalu pergi, karena memang selalu akan kembali. Tapi pergi untuk tidak kembali?
”Seperti apa sih di sana?”
”Lho, mana kita tahu.”
Aku penasaran sekali sekarang. Setiap kali kulihat kereta api itu datang, kuperhatikan para penumpangnya. Memang wajahnya sudah terlihat pasrah. Siap pergi ke suatu tujuan tanpa membayangkan akan pernah kembali. Kadang-kadang ada satu keluarga yang pergi bersama seperti mau piknik. Orang-orang yang mengantar banyak yang menangis.
”Jangan lupakan aku ya?” teriak mereka sambil melambai-lambaikan tangan.
Orang-orang yang berangkat selalu tersenyum bahagia.
”Aku tidak akan pernah melupakan kamu. Jangan lupakan aku juga ya!”
Begitulah meraka melambai-lambai sampai kereta api menghilang di balik cakrawala. Rel menuju ke Negeri Senja memang khusus. Mula-mula memang searah dengan rel ke jurusan Jakarta, tapi disuatu tempat akan memisah. Berbelok ke celah sebuah lembah, lantas lenyap di balik kabut. Orang-orang seperti sudah mengerti untuk tidak usah coba-coba menyelidik – kecuali jika siap untuk tidak kembali. Setiap orang yang pergi ke Negeri Senja memang tidak pernah kembali. Kecuali barangkali di dalam mimpi mereka yang di tinggalkan.
Setiap senja kuamati peron dimana orang-orang yang siap berangkat ke Negeri Senja menunggu kereta api. Mereka datang, dengan tenang menuju loket, tandatangan lantas duduk tenang-tenang di bangku itu. Matahari senja yang keemasan membuat lantai peron itu seperti susunan tegel yang terbuat dari lantakan emas. Orang-orang yang duduk dibangku, laki-laki tua, ibu dan anak, nenek-nenek, atau seorang pemuda remaja berambut punk, nampak begitu tenang dan begitu pasrah wajahnya – seperti mengalami kebahagian yang mengatasi keduniawian. Apa yang membuat seseorang pergi untuk tidak kembali?
Aku ingin bertanya kepada salah seorang diantara orang-orang itu, tapi peron itu khusus untuk pemegang tiket ke Negeri  Senja. Aku hanya bisa memandang mereka, seperti juga orang-orang lain di stasiun Tugu, memandang orang-orang yang berubah menjadi siluet dalam pancaran matahari keemasan yang menyilaukan. Dalam siluet senja mereka seperti bergerak antara ada dan tiada. Membawa kopor kecil, ransel, dan menelpon kesana-kemari dengan HP. Apakah mereka berpamitan kepada orang-orang tercinta? Apakah dari Negeri Senja kita tidak bisa menelpon?
Apakah negeri senja itu indah? Tidak ada satu kabar burung pun dari sana. Tidak ada pengenalan apa-apa yang membuat kita paling sedikit bisa mengira-ngira meskipun barangkali salah sama sekali. Tidak ada apapun yang bisa di pegang meskipun sekedar untuk menduga-nduga saja. Hanya nama itu saja, Negeri Senja. Apalah yang bisa kutebak dari nama itu?
Kupandang seorang wanita yang akan berangkat kesana. Ia melangkah dengan anggun seperti bidadari. Dalam cahaya keemasan rambutnya yang panjang dan bergelombang memberikan suatu rasa kebahagiaan yang aneh tapi abadi. Padahal kebahagiaan itu biasanya fana, sementara, sehingga kadang-kadang terasa sia-sia.
Apakah negeri senja menjanjikan suatu kebahagiaan abadi? Sebegitu jauh, orang-orang yang datang ke stasiun ini lebih banyak yang memilih pergi ke Jakarta daripada ke Negeri Senja. Banyak diantaranya juga pergi ke jakarta untuk memburu kebahagiaan, memburu mimpi, memburu cita-cita yang terhampar di cakrawala – meskipun Jakarta sering terasa seperti neraka.
Di stasiun Tugu, aku termenung memandang senja. Kereta api yang gilang gemilang dengan tujuan Negeri Senja itu tiba. Kalau aku menaiki kereta api itu, aku tidak akan pernah kembali.
                 
Jakarta, Senin 17 Agustus 1998

Selasa, 01 Januari 2013

Sederet Bintang untuk Anak-Anak Libanon (part1)

5 KEKUATAN DARI TUHAN

:deret kata untuk seseorang di Libanon:

5 hari sebelum natal....
            Salju semakin menyapa hangat beberapa belahan dunia. Membuat semangat matahari harus segera mengalah pada butiran-butiran kapas dari langit. Sementara kalender di meja belajar Letisha terus tersenyum sepanjang hari –tak sabar ingin menyambut natal yang sudah ada di depan mata, Letisha hanya menyoret deret angkanya dengan spidol merah tanpa gairah. Semakin dekat pada tanggal 25 Desember, Letisha, semangatnya semakin menguap.
            Ada yang hilang. Mungkin hanya 3 deret kata itu yang membuat semangat Letisha menjadi tak sama. Biasanya seminggu sebelum hari Natal ia bahkan sudah akrab dengan pohon cemara. Menghias setiap dahannya menjadi cantik. Menaruh bintang pada puncak tertingginya. Atau apapun –yang membuat Letisha semangat menyambut natal.
            DUAAAAR!!! DUAAAARR!!
            Suara itu lagi. Tanpa pikir panjang, Letisha segera meringkuk di bawah meja. Menutup telinga dan matanya kuat-kuat, menahan segala gemuruh yang di bawa oleh angin lewat deru tembakan. Ia sudah terbiasa seperti ini, setidaknya beberapa bulan terakhir semenjak Israel memutuskan mengadakan perang saudara dengan Libanon, tempat kelahirannya.
            Letisha menghela nafas berat, suara menyeramkan itu sudah tak terdengar. Lantas ia keluar dari bawah meja, menatap langit-langit kamar, mengirimkan doa pada Tuhan.
Tuhan, aku hanya ingin diberi kekuatan menjelang natal. Walaupun hanya untuk pura-pura tak mendengar deru tembakan yang julangnya sampai ke awan.
            Kemudian Letisha memejamkan matanya.

4 hari sebelum natal...
            Letisha bangun pagi-pagi sekali hari ini. Sesaat setelah membuka mata, Letisha berjalan ke arah jendela kamarnya, membukanya perlahan, dan menghirup sisa udara segar yang masih disediakan alam untuknya. Matanya memejam –terfikir kapan terakhir kali ia mendengar ayam berkokok untuk menyapa pagi. Atau burung yang bernyanyi bersama embun diujung dahan sana. Sekarang semuanya tak lagi sama.
            Terlalu banyak kenangan pahit yang menghampiri hidup Letisha di Libanon akhir-akhir ini. Ia bahkan tak ingat kapan burung diujung dahan sana bernyanyi pada pagi. Sekarang yang Letisha dengar hanya deru tembakan, suara teriakan orang-orang, dan berita kematian. Semuanya terus seperti itu. Tak berhenti berputar seperti waktu.
            “Ayah belum pulang, Bu?” tanya Letisha sambil meneguk susu kotaknya.
            Ibu hanya diam saja dengan pandangan kosong. Ada rasa yang tertahan dibalik nanar matanya. Ada kata yang tak terucap dibalik bibirnya.
            “Bu...” Letisha lantas mendekati ibunya. Memegang perlahan bahu beliau.
            Ibu menatap Letisha, kemudian memeluknya. Beliau sesenggukan diatas tubuh putrinya. Belum ada satu kata pun yang keluar. Letisha terus menunggu.
            Lama, Ibu berhenti menangis. Sambil masih menatap nanar kepada Letisha, beliau berkata pelan, “Ayahmu gugur, Nak.”
            Hanya itu. Letisha tak perlu penjelasan apa-apa lagi setelahnya. Ia tau saat ini akan tiba. Ayahnya –seseorang yang bukan dari anggota perang, melepaskan dirinya untuk menjadi relawan beberapa bulan lalu. Ibu dan Letisha sempat tak setuju, tapi beliau tetap bersikukuh untuk menjalaninya. Membela negara, katanya.
            Dan Letisha tak pernah menyangka saat itu benar-benar terjadi.
            Ayahnya gugur saat keluar dari tempat persembunyiaannya. Mencoba bermaksud melawan Israel, namun takdir membawanya pada arah lain.
            Seekor kupu-kupu putih hinggap pada tangan Letisha. Membuatnya tersadar dai lamunan dan segera menyeka air mata yang sejak tadi menari di pipinya. Ia merindukan ayah. Sosok yang selalu mendekapnya saat deru tembakan itu terdengar. Sosok yang ada disampingnya saat ia merasa takut. Sosok yang percaya bahwa Letisha akan menggapai bintangnya seperti bintang di atas pohon natal.
            Letisha merindukan Ayah.
            “Letisha, apakah kau sudah bangun?” Ibu mengetuk pintu kamar dengan pelan.
            Tanpa menjawab, Letisha segera beranjak dari tempatnya mengulang masa lalu tadi. Ia membukakan pintu untuk ibunya, “Selamat pagi, Bu.” Ucap Letisha sambil tersenyum dan mencium Ibu.
            “Pagi. Bagus jika kau sudah bangun. Ayo turun kebawah, bantu ibu membuat kue.”
            Letisha mengangguk dan mengikuti Ibu. Saat menjelang natal, keluarga Letisha selalu membuat kue jahe. Kue berbentuk boneka manusia yang terbuat dari adonan terigu dan sedikit jahe ini adalah kesukaan turun-temurun keluarganya. Kue ini seakan menjadi santapan wajib untuk lebih menghangatkan suasana natal.
            Letisha segera mengambil bahan-bahan yang diperlukan ibu untuk membuat kue jahenya. Sedang ibu terus mengocok adonan dengan telaten, Letisha memandangnya sejenak. Masih ada rindu pada nanar mata Ibu. Mungkin beliau masih belum terbiasa menjalankan hari-harinya tanpa ayah. Dulu, selama menjelang natal ayah selalu meliburkan diri dari kantor hanya untuk mempunyai waktu lebih lama dengan keluarganya. Ayah selalu membantu ibu dan Letisha untuk membuat kue jahe bersama-sama. Ayah selalu menghias pohon natal. Ayah selalu ada saat natal sebelum natal tahun ini menjelang.
            “Sha, tolong tambahkan jahenya lagi,” ibu kembali menyadarkan lamunan Letisha.
            Ia segera memenuhi permintaan ibunya. Kemudian berkata lirih, “ini tahun pertama ayah gak buat kue bareng kita bu.”
            Ibu menghentikan gerakannya. Menatap Letisha. Ia tahu, seorang anak pasti merindukan saat indah bersama ayahnya. Namun Ibu tak dapat berbuat apa-apa, selain mendekap erat putrinya. “sudahlah, Nak. Jangan terus mengungkit jika kau tak ingin terus merasa kehilangan. Ikhlaskan. Biarkan ayahmu bahagia dengan jalan yang telah mengantarkannya kembali pada Tuhan.”
            Letisha tak menggubris ucapan ibunya. Walaupun dalam hati ia harus membenarkan kata-kata beliau. Tapi ia merindukan Ayah. Jadi ia hanya merangkai sebuah doa dalam dekapan ibundanya.
            Tuhan, aku ingin kuat seperti Ibu. Yang tidak memperlihatkan rasa kehilangannya. Beri aku kekuatan itu, Tuhan. Meski lewat airmata yang sesekali membasahi wajah saat aku rindu Ayah.
            Letisha terus mendekap ibunya. Lebih erat.
Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/tips-cara-supaya-artikel-blog-tidak.html#ixzz2NEfURgcc