Sabtu, 09 Maret 2013

SAYA MENYERAH!



           Saya sedang duduk dengan mata yang takterlepas dari fotomu. Kemudian saya tersenyum, memutar ulang kenangan yang telah saya perjuangankan untuk mendapatkan secuil perhatian. Tanpa kamu pernah sadar apa yang telah saya lakukan.
      Sudah lama sekali rasanya saya melakukan ini: tersenyum sendirian ketika mengingat kejadian bersamamu, memotret senyummu diam-diam dan memutar ulang setiap malam, bahkan uring-uringan saat kamu tak pernah datang untuk berbincang dengan saya sebentar.
Atau merasakan ini: merindukan tanpa pernah dirindukan, melukiskan harapan tanpa pernah tahu kapan ada kepastian, sampai menunggu kedatangan seseorang yang takkan pernah datang.Rasanya lelah –tapi saya belum ingin menyerah. Entahlah, mungkin ini cinta dari seseorang yang tak mengerti apa itu cinta.
            Sampai saatnya, saya sadar bahwa kamu hanya menganggap saya teman.
            Hanya untuk hubungan pertemanan.
            Tak lebih.
         Kemudian, ketika suatu hari saya sedang sendirian di dalam kamar, saya memikirkan ini: untuk apa perjuangan yang selama ini saya lakukan jika selalu berbalas pengabaian? Untuk apa saya melukiskan harapan jika dengan mudah kamu mengucapkan kata perpisahan? Jadi...untuk apa saya mengharapkan seseorang yang tak pernah memberikan harapan kepastian?
      Sejak saat itu, saya menyadari satu hal: kamu tak pantas saya perjuangankan. Jika hanya berbalaskan pengabaian dan berakhir hanya dengan pertemanan, saya rasa perjuangan saya percuma. Sebelum saya terlambat, saya akan menghapuskan perasaan dan belajar meninggalkan.
         Mungkin ini gila –menghapus perasaan yang telah berkarat memang tak mudah, tapi saya hanya tak ingin waktu saya terbuang untuk seseorang yang tak pernah menghargai segala perhatian dari seseorang yang memberikan rasa sayang. Menyesalah, Sayang. Saat saya pergi, kamu takkan pernah saya terima lagi bahkan untuk sekedar kembali. Saya sudah lelah. Sudah sangat lelah berjuang sendirian. Dan selalu berakhir pengabaian.
            Selamat tinggal, Perjuangan!:’)

07-03-2013



LANGIT JINGGA & SESEORANG

foto diambil dari tumblr;)


Naila membolak-balikkan buku pelajarannya dengan gemas. Sudah setengah jam yang lalu ia berkutik dengan satu soal ke satu soal yang lain. Mencari dari satu sumber hingga kesatu sumber yang lain. Namun, sudah setengah jam yang lalu juga soalnya belum selesai setengah. Padahal, tugas yang lain masih menunggu untuk di sentuh. Naila di buat frustasi karenanya.
        Jadi, Naila memilih untuk menyerah saja. Ia menutup semua buku pelajarannya, lantas mengambil sebuah novel karangan C.S Lewis –pengarang favoritnya– yang tergeletak dari setengah jam yang lalu. Ini saatnya untuk mengistirahatkan sebentar otak kirinya, dan membiarkan otak kanannya menarik nafas.
     Ketika Naila sedang terbius oleh deretan kata dan masuk dalam dunia fantasinya, seseorang mengguncang bahunya pelan, membuat Naila terpaksabangun dari imajinasinya.
           “Gue mau ngomong sama lu,” kata seseorang itu. Yang tak lain adalah Acha, teman kelas sebelah.
           “Ya ngomong aja. Ada apa?” jawab Naila santai, sambil menutup novelnya.
           “Lu berubah,” kata Acha lagi. singkat, padat, dan sangat jelas.
           Tapi Naila mengerutkan kening. Menuntut penjelasan sampai titik penghabisan.
           “Gue dan yang lain kehilangan diri lu yang dulu, Nai.”
          Naila menarik nafasnya berat. Lagi-lagi masalah yang menurutnya kecil, tapi di besarkan oleh semua temannya. “Terus?” hanya itu respon yang Naila beri, sehingga membuat Acha tak mengerti.
           “Ya gak terus-terus. Kita kangen elu Nai. Sebelum lu sesibuk ini,”
           “Gue pun kangen diri gue yang dulu, Cha. Tapi gue gak bisa ninggalin realitas.” Naila berucap lirih.
           “Gak adakah waktu dari lu buat kita?”
           “Belum, Cha.” Naila membereskan semua bukunya. Memasukkannya ke dalam tas, “maaf, Cha. Gue duluan. Masih harus beresin buku di perpus. Salam buat yang lain.” Ia segera berlalu, meninggalkan Acha yang masih diam disitu.
           Sebenarnya, tak ada buku yang harus di bereskan, Naila hanya menghindar. Ia hanya tak ingin segala masalah yang ada bertambah panjang. Karena terkadang, berlari menghindari memang lebih baik daripada bertarung melawan emosi.
          Naila terduduk lesu di pojokan perpus, tempat favoritnya. Ia kembali mengambil novelnya, mencoba terlarut bersama deretan kata. Namun, lagi-lagi kegiatannya harus terhenti ketika otaknya memutuskan untuk memikirkan masalah yang baru saja di utarakan Acha.
       Acha benar. Ia sudah lama tidak berkumpul dengan teman-temannya. Ini karena kesibukan yang menuntut untuk tak di biarkan. Hampir setiap hari Naila harus belajar sampai jam enam petang, dan di lanjutkan dengan mengerjakan tugas. Selesai mengerjakan tugas, ia segera pergi tidur. Benar-benar tak ada waktu untuk meninggalkan rutinitas. Kalaupun ada waktu luang, Naila menggunakannya untuk beristirahat. Untuk bersenang-senang dengan dunianya dan meninggalkan rutinitas. Jadi wajar, jika teman-temannya juga meminta waktunya.
         Tapi di sisi lain, Naila harus memproitaskan hal mana yang harus dia kerjakan duluan. Dan bermain, selalu di urutan terakhir. Lagipula, sejak semester kemarin Naila sudah tak memikirkan hal-hal yang membuang waktu. Ia lebih memilih untuk mengerjakan rutinitasnya, walaupun terkadang itu membuatnya jenuh. Dan hanya dengan membaca, kejenuhannya terobati.
         Naila tak tahu lagi apa yang telah dan harus ia perbuat, sampai-sampai matanya panas. Kemudian, setetes demi setetes air mata turun bersama kekosongan yang menyergap hatinya.
         “Kenapa?” seseorang menarik kursi di depan Naila. Membuat Naila tersentak sebentar, kemudian menangis lagi.
            “Yaudah nangis aja dulu,” kata seseorang itu lagi sambil membolak-balikkan majalah di tangannya.
        Setelah beberapa saat, Naila menyurutkan air matanya. Seseorang itu masih disana, tenggelam bersama majalah yang sedang di bacanya. Tak menuntut Naila untuk bercerita, hanya menemaninya saja disana. Dalam diam.
        “Sudah, Kak.” Naila membuka pembicaraan.
        “Sudah siap cerita?” seseorang itu berkata sambil menyerahkan sapu tangan miliknya.
     Naila tersenyum dan mengambil sapu tangan yang di berikan. Seseorang di depannya ini selalu tahu bagaimana membuat hatinya tenang. “Aku cape, Kak.” kata Naila lirih.
        “Sudah kuduga. Apalagi kali ini? Tentang orang rumah lagi?”
        Naila menggeleng.
        “Lalu?”
       “Teman-teman. Mereka bilang aku berubah. Mereka bilang aku gak punya waktu lagi buat mereka. Tapi aku kayak gini kan karna ada alasannya,” Naila menarik nafas sebentar takut ia menangis lagi.
          “Terus yang buat kamu nangis itu apa?”
       “Aku gak tahu kali ini siapa yang salah. Aku yang terlalu sibuk atau mereka yang gak mau ngerti. Entahlah,” lanjut Naila lagi.
          “Namanya juga cewek, suka labil sendiri sama masalahnya. Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan,” kata seseorang itu sambil mengangkat bahu.
          Naila melotot. Namanya juga cowok, selalu saja menanggap enteng setiap masalahnya. Umpat Naila dalam hati.
          “Ada saatnya dimana kamu harus ngalah sama rutinitas kamu, Nai.” Seseorang itu melanjutkan, seolah bisa membaca apa yang di pikirkan Naila.
          “Gak bisa, Kak. Gak semudah itu.”
         “Berhentilah mengeluh. Coba sedikit demi sedikit. Aku tahu kamu sibuk dengan segala rutinitasmu itu, tapi teman-temanmu juga kangen kamu, Nai. Emang kamu gak kangen mereka?” seseorang itu menutup majalahnya, melipat tangannya di atas meja, dan memerhatikan Naila lekat-lekat.
        “Aku gak tahu. Rutinitas ini buat aku lupa segalanya, Kak. Kalaupun ada waktu luang, aku pengen melakukan hobiku yang sempat aku abaikan. Mengertilah, Kak.”
        “Debat sama kamu emang gak pernah ada ujungnya, Nai.” Seseorang itu menarik nafas. Kemudian berdiri, mengulurkan sebelah tangannya yang disambut lagi oleh Naila.
          “Mau kemana?” tanya Naila.
          “Ke tempat favorit kita,” jawab seseorang itu.
***
          Langit sudah berganti warna dengan cahaya jingga yang membias kesana-sini. Naila menatap altar luas di atas sana, sambil sesekali tersenyum.
          “Bilang apa?” seseorang itu membuat Naila menoleh sambil mengerutkan kening.
          “Apanya?” kata Naila.
       “Setidaknya disini kamu melupakan sebentar masalahmu, kan?” kata seseorang itu lagi sambil tersenyum, menatap mata Naila lagi.
       Naila ikut tersenyum. Seseorang ini benar, disini ia temukan kedamaian. Meninggalkan segala rutinitasnya, masalahnya, bahkan hobinya hanya untuk menghitung detik-detik langit berganti warna menjadi jingga, kemudian menjadi gelap begitu saja. Naila temukan dunianya disini. Bersama seseorang yang tak pernah memberikan solusi untuknya, tapi terus memberikan ketenangan untuk hatinya. Singkat, Naila jatuh cinta dengan....semuanya.
             “Makasih, Kak.” Kata Naila yang kemudian menggenggam tangan seseorang itu.
           “Ya, Nai. Sama-sama. Sudah ya, jangan dipikirkan. Setiap masalah pasti ada jalan keluar,” jawab seseorang itu dengan balas menggenggam tangan Naila.
            Lalu mereka melanjutkan menghitung detik-detik langit berganti warna menjadi jingga, dan menjadi gelap begitu saja.

Jum'at, 08-03-2013
23:22

Kamis, 14 Februari 2013

(semacam) Catatan Kecil Penghantar Tidur

Tiba-Tiba Ada Lagi
   Sudah lama sekali rasanya aku tidak bercengkrama dengan sastra. Tak memeluk kata agar ia dapat menyatu dengan ragaku. Tak mencoba berlari mengejar inspirasi yang datang lalu seenaknya pergi. Aku hanya diam saja disini; tak melakukan apa-apa.
   Sampai kemudian, rasa itu datang lagi.
   Aku sedang berbaring di tempat tidurku. Menunggu mataku terpejam. Lalu tiba-tiba inspirasi itu datang. Mereka tak cepat pergi justru berterbangan di atas kepalaku banyak sekali. Seperti kupu-kupu. Indah. Mungkin mereka minta di tangkap.
   Jadi aku menangkap satu.
   Aku simpan di bawah bantal, untuk kapan-kapan akan aku ambil sebagai kopi hangat diantara percakapanku dengan sastra. Mungkin, siapa tahu?
12-02-2013
21:18

Tiga Kenyataan
   Akan kutuliskan tiga kenyataan yang -semoga- dapat membuatmu melihat ke arahku sebentar saja.
   Kenyataan pertama adalah bahwa aku mencintaimu. Tak perlu banyak alasan untuk mengutarakan ini. Karena kebanyakan cinta hadir tanpa alasan yang pasti. Aku hanya senang memotret setiap tindakan yang kau lakukan lalu memutarnya kembali saat aku akan terlelap. Semacam lagu penghantar tidur. Setelah itu, aku akan menemukan diriku tersenyum sendirian.
   Kenyataan kedua adalah bahwa aku selalu menjadi orang lain. Aku iri terhadap mereka yang -dulu- dengan mudah mengatakan rindu padamu tanpa malu-malu; sedang aku harus menuliskan rindu itu pada sajak setiap malam. Secara diam-diam. Tanpa tahu kapan kau akan membacanya.
   Kenyataan terakhir adalah bahwa aku adalah arah yang membawamu kembali ke jalan pulang. Aku yang banyak berjuang untuk mendapatkan sedikit penerangan darimu. Lihatlah kemari sebentar, Sayang. Aku telah banyak berjuang untuk mendapatkan sedikit perhatian. Darimu.
13-02-2012
20:45

Wangi Hujan
   Wangi hujan semalam masih terasa. Dari tempatmu, dia mengetuk-ngetukkan rindu yang sudah lama usang oleh waktu. Di tempatku, dia menuliskan cerita yang takkan pernah habis kita baca.
   Wangi hujan lalu jatuh; menyerbak setiap kenangan yang telah kau simpan rapi dalam lemari. Dan angin membawakannya untukku. Untuk kita jenguk sekali. Kemudian pergi.
13-01-2013
22:30

Percakapan Dalam Kamar
   Ponsel itu lagi-lagi memperdengarkan musik dari mulutnya. Semakin lama semakin keras. Semakin menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Sedangkan si empunya ponsel hanya diam saja disana; diantara air mata yang bercerita kepada bantal kamar. Semakin lama semakin keras. Semakin menyayat hati siapapun yang melihatnya.
   "Kenapa lagi dia?" bisik salah satu novel di ujung rak belajar.
   Yang lain hanya mengangkat bahu, acuh tak acuh.
   "Kasian ya. Juragan kita tak pernah bahagia sepertinya," kini isi mading yang geleng-geleng.
   "Sudahlah, biarkan saja catatan kecil dalam ponsel yang mengetahui apa yang terjadi kali ini. Lebih baik kita tidur saja." setelah itu hanya hening yang bercengkrama dengan ponsel yang masih menyala.
   Tuhan, tak adakah sedikit ruang kebahagiaan untukku? Mengapa lagi-lagi pengkhianatan?
   Si empunya berbisik pada catatan kecil. Sedang matanya kini terlelap dengan luka yang belum juga terusap.
   "Semoga Tuhan memberikan kekuatan lewat tulisannya malam ini."
   Bantal hanya mengangguk sambil terus mengusap air mata yang tak mau juga menjadikan dirinya tiada.
24-12-2012
21:24

Selasa, 05 Februari 2013

Sebaris Kata dalam Kata


Sebaris kata itu hidup dalam kata. Karena selalu berdampingan dengan kata, maka aneh bila suatu hari ia tak ada.
            Malam telah menggelar altarnya pada dunia. Ditemani hujan dan nyanyian rintiknya, jemariku bermain pada tuts komputer usang karena telah lama aku tinggali. Kini, kugali lagi sisa-sisa sebaris kata itu yang –mungkin– masih tersimpan rapi dalam kata.
Aku akan mencoba. Sekuat dan semampu yang aku bisa.
            Jam berdetak lebih cepat.
            Jantung kian berkejaran dengan waktu.
            Jemariku masih asik bermain pada tuts komputer; sedang sesekali hujan menyuruh untuk lebih cepat menemukan sebaris kata itu.
            Kemudian tiba-tiba gelap.
            Kini gantian air mataku yang bermain pada tuts komputer.

Selasa, 05 Februari 2013
21:53

Senin, 04 Februari 2013

KUNCI UNTUK SHILA

KUNCI UNTUK SHILA

Kata Kakak, bahagia itu sederhana.
            Namaku Camelia Jelita, umurku baru menginjak 10 tahun. Aku belum mengerti betul apa itu sederhana –saat aku tanya pada Ayah, beliau bilang sederhana berarti tidak berlebih-lebihan; merasa cukup. Jadi, aku ambil kesimpulan bahwa bahagia yang sederhana adalah kebahagiaan yang dicapai melalui hal-hal kecil.
            Sampai akhirnya, aku bertemu dengan Shila.
            Shila adalah tetangga baru sebelah rumah. Umurnya sama denganku. Tetapi, dia berbeda dengan anak-anak lain. Saat kami semua bermain di luar rumah, Shila hanya duduk di depan teras dengan buku dalam genggamannya. Pernah waktu itu aku melihatnya sedang menulis, atau ketahuan sedang tersenyum melihat kelakuan teman-temanku.
            Saat aku tanya pada Kakak mengapa ia tak pernah keluar rumah, kakak bilang Shila menutup diri. Lagi-lagi aku tidak tahu apa artinya itu, tapi aku bermaksud mencari kuncinya. Jadi, saat kalender menunjuk pada tanggal 2 Agustus, sore harinya aku mengajak Ibu ke rumah Shila.
            Rumah Shila tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Pagarnya berwarna abu dengan cat rumah senada. Ibu mengetuk pintu depan dengan aku yang berada disampingnya.
            Saat pintu dibuka, tampak seorang wanita cantik berdiri disana. Dengan keriput yang menghiasi wajah, ia tersenyum pada Ibu dan mempersilahkan kami masuk.
            “Amel, itu Shila. Kamu main gih sama dia.” Suruh Ibu seraya menunjuk ke arah gadis kecil yang sedang duduk bersama boneka-bonekanya.
            Aku mengangguk kecil. Lalu berjalan ke arah Shila.
            “Aku Amel. Rumahku di sebelah rumahmu,” aku mengulurkan tangan, memperkenalkan diri duluan.
            Tak ada respon dari Shila selama beberapa menit, sebelum akhirnya dia membalas uluran tanganku dan tersenyum –memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
            Tiba-tiba Shila bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah meja telepon. Diambilnya secarik kertas dan menuliskan sesuatu disana. Setelah itu, dia memberikan kertasnya padaku. Tertulis disana:
            Aku Shila. Senang berkenalan denganmu. Maaf aku harus menulis dulu saat kita ingin bicara. Yuk, kita main boneka sama-sama!
            Aku melihat kearahnya. Dengan Shila yang memberikan sebuah boneka beruangnya padaku.
            Saat aku ingin bertanya –mengapa ia tak bicara saja– telingaku menangkap samar topik pembicaraan Ibu dengan Tante Kia, mamah Shila.
            “Saya dengar, Shila suka menulis. Apa yang membuatnya mempunyai hobi itu?” tanya Ibu.
            Helaan nafas berat terdengar dari bibir Tante Kia, “Shila bisu sejak lahir. Jadi hanya tulisan yang dapat ia jadikan perantara untuk mengungkapkan perasaannya.”
            Kini giliran Ibu yang menarik nafas beratnya.
            Saat itu juga aku mengerti apa arti menutup diri dan alasan mengapa Shila harus menulis dulu jika kami ingin bicara.
            Ia bisu.
            Untuk arti kata yang satu ini, aku tak perlu mencari tahu. Aku pernah menonton film bahwa orang yang bisu tak dapat bicara. Dan sekarang orang itu benar-benar ada di depanku!
            Mungkin, kebisuan Shila membuat dirinya malu untuk bermain bersama anak-anak lain. Sehingga, ia hanya duduk di teras rumahnya sambil sesekali tersenyum. Mungkin, Shila iri pada kami. Ia takut untuk tak mendengar tawanya seperti kami mendengar tawa kami. Ia terlalu takut untuk mendengar dunia yang menertawakan kebisuannya. Satu perbedaan fisik telah menjadikannya benar-benar berbeda.
            Ku tatap wajah manis di depanku ini. Sadar sedang diperhatikan, Shila menatap balik ke arahku. Kemudian ia tersenyum. Mengayunkan tangan bonekanya, menuntut agar permainan segera di mulai. Aku menurut saja. Tanpa suara, kami bermain bersama.
            Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam. Adzan Magrib pun telah berkumandang menyerukan panggilan. Ini waktunya pulang. Aku pamit pada Shila dan berkata padanya bahwa besok aku akan berkunjung lagi. Matanya berbinar sekali waktu itu, diikuti Tante Kia yang tersenyum simpul.
            Di perjalanan pulang, aku bergumam sendirian, “Benar kata Kakak, bahagia memang sederhana. Mencoba mencari kunci diri untuk Shila sehingga ia tak takut lagi pada dunia, contohnya.” dengan kakiku yang melengang riang sampai masuk rumah.
            Aku segera ke kamar dan menceritakan pertemananku dengan Shila pada buku harian.
            Tanganku mulai menari disana.

Minggu, 03 Febuari 2013.
22:36

Jumat, 25 Januari 2013

Hopelist or Hopeless?:')


Kata orang aku ceria.
Jadi, kalau aku terlihat sedang bersedih, aku akan cerita. Pada beberapa orang yang aku percaya. Maka, orang-orang itu milihat diriku dari sisi yang berbeda, bukan dari aku yang biasa. Kadang mereka serentak berkata, “ini bukan lo,” atau “gue gak nyangka lo sedramatis ini,” serta ungkapan-ungkapan lain yang hanya kubalas dengan senyum terpaksa.
Sekarang, akan aku ceritakan pada kalian. Akan aku perlihatkan bagaimana aku menjadi sosok yang berbeda. Guruku pernah berkata seperti ini, “jika kalian punya impian. Maka tulis, tulis, dan tulis. Lalu tempelkan itu pada dinding kamar kalian. Karena itu salah batu loncatan harapan.”
Ini mungkin hanya tentang harapan-harapan yang dapat ku tulis tanpa pernah tahu kapan akan kurealisasikan.
Aku suka menulis. Jadi hal yang ada pada puncak harapanku adalah menjadi penulis. Kenapa aku suka menulis? Karena kata akan mewakilkan suara. Tanpa bising –karna aku suka hening. Orang-orang akan merasakan apa yang aku rasakan, tanpa harus mendengarkan teriakan dari suaraku yang cempreng ini. menulis membuat seluruh ragaku mendengarkan celotehan alam, menulis membuatku tenang, dan menulis membuatku ada. Tulisan adalah muntahan perasaan diam.
Tapi, tulisanku disini hanya tulisan. Hanya hobi yang akan terus kusalurkan.
Kedua, aku suka fisika. Harapanku selanjutnya adalah lulus dengan nilai fisika diatas 8. Fisika menghilangkan rasa pusing pada otakku. Fisika adalah pelampiasan. Sesuatu yang hanya akan diam jika aku berteriak pada deretan rumusnya. Yang hanya akan mendengarkan tanpa mengeluh. Fisika membuatku melihat kenangan yang dibuat alam.
Tak jarang fisika membuatku menangis. Bertekuk lutut pada soal yang tak bisa aku selesaikan. Tapi itu yang namanya hidup, kan? Kau harus menemui kesulitan untuk mencapai puncak. Jadi, aku akan terus menyukai fisika. Sampai kapanpun.
Aku juga suka mendengarkan. Jadi, terkadang ada sebersit harapan untuk menjadi psikolog. Kalian tau mengapa Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut? Karena Dia menyuruh makhluk-Nya untuk lebih mendengarkan daripada berbicara. Namun pada kenyataannya, manusia lebih suka menceritakan daripada mendengarkan cerita orang. Aku juga seperti itu, tapi aku suka mendengarkan. Saat seseorang menceritakan apa yang dia rasakan, aku seperti menjadi bagian darinya. Aku merasakan apa yang dia rasakan. Sesederhana itu –aku senang menjadi pendengar.
Terakhir, yang menjadi bagian paling bawah pada list harapanku, aku ingin dicintai. Oleh siapapun. Jika dicintai oleh orang yang aku cintai, anggap saja itu bonus. Aku ingin membuat semua orang bersemangat saat melihat ceria itu terpancar pada wajahku. Meski itu hanya pura-pura. Tak apa. Yang penting mereka bahagia dan aku dicintai. Itu saja.
Selesai.
Kalian akan menemukan banyak kata “tapi” pada tulisanku kali ini. Karena memang, -seperti kata Dee, realistis dan idealis beda tipis!
Bye! Sampai ketemu di tulisanku selanjutnya.

Jum'at, 25-Januari-2013
13:05 di Ruang Akademik.

Kamis, 24 Januari 2013

Teriakan Kesabaran


Teriakan Kesabaran
Adaptasi terjemahan Q.S Al-Baqarah 152-156

/1/
Deru tembakan
Julangnya sampai ke awan
Meneriakkan para pahlawan
Namanya akan tenggelam:
Kelam

/2/
Dari bentangan langit biru
Kujumpai bayang itu
Mendatangkan resah
Pada jejantung tanah basah

/3/
Senja menenggelamkan nama
Bersama warna jingganya
Sedang aku hanya merana
Pada jejak yang menjadikan
Mereka tiada

/4/
Di keheningan malam
airmata doa mengalir tiba-tiba
mendatangkan bahtera sabar
Pada setiap altar malam
Ketika mereka kembali;
Pada cahaya Illahi.
Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/tips-cara-supaya-artikel-blog-tidak.html#ixzz2NEfURgcc