Selasa, 01 Januari 2013

Sederet Bintang untuk Anak-Anak Libanon (part1)

5 KEKUATAN DARI TUHAN

:deret kata untuk seseorang di Libanon:

5 hari sebelum natal....
            Salju semakin menyapa hangat beberapa belahan dunia. Membuat semangat matahari harus segera mengalah pada butiran-butiran kapas dari langit. Sementara kalender di meja belajar Letisha terus tersenyum sepanjang hari –tak sabar ingin menyambut natal yang sudah ada di depan mata, Letisha hanya menyoret deret angkanya dengan spidol merah tanpa gairah. Semakin dekat pada tanggal 25 Desember, Letisha, semangatnya semakin menguap.
            Ada yang hilang. Mungkin hanya 3 deret kata itu yang membuat semangat Letisha menjadi tak sama. Biasanya seminggu sebelum hari Natal ia bahkan sudah akrab dengan pohon cemara. Menghias setiap dahannya menjadi cantik. Menaruh bintang pada puncak tertingginya. Atau apapun –yang membuat Letisha semangat menyambut natal.
            DUAAAAR!!! DUAAAARR!!
            Suara itu lagi. Tanpa pikir panjang, Letisha segera meringkuk di bawah meja. Menutup telinga dan matanya kuat-kuat, menahan segala gemuruh yang di bawa oleh angin lewat deru tembakan. Ia sudah terbiasa seperti ini, setidaknya beberapa bulan terakhir semenjak Israel memutuskan mengadakan perang saudara dengan Libanon, tempat kelahirannya.
            Letisha menghela nafas berat, suara menyeramkan itu sudah tak terdengar. Lantas ia keluar dari bawah meja, menatap langit-langit kamar, mengirimkan doa pada Tuhan.
Tuhan, aku hanya ingin diberi kekuatan menjelang natal. Walaupun hanya untuk pura-pura tak mendengar deru tembakan yang julangnya sampai ke awan.
            Kemudian Letisha memejamkan matanya.

4 hari sebelum natal...
            Letisha bangun pagi-pagi sekali hari ini. Sesaat setelah membuka mata, Letisha berjalan ke arah jendela kamarnya, membukanya perlahan, dan menghirup sisa udara segar yang masih disediakan alam untuknya. Matanya memejam –terfikir kapan terakhir kali ia mendengar ayam berkokok untuk menyapa pagi. Atau burung yang bernyanyi bersama embun diujung dahan sana. Sekarang semuanya tak lagi sama.
            Terlalu banyak kenangan pahit yang menghampiri hidup Letisha di Libanon akhir-akhir ini. Ia bahkan tak ingat kapan burung diujung dahan sana bernyanyi pada pagi. Sekarang yang Letisha dengar hanya deru tembakan, suara teriakan orang-orang, dan berita kematian. Semuanya terus seperti itu. Tak berhenti berputar seperti waktu.
            “Ayah belum pulang, Bu?” tanya Letisha sambil meneguk susu kotaknya.
            Ibu hanya diam saja dengan pandangan kosong. Ada rasa yang tertahan dibalik nanar matanya. Ada kata yang tak terucap dibalik bibirnya.
            “Bu...” Letisha lantas mendekati ibunya. Memegang perlahan bahu beliau.
            Ibu menatap Letisha, kemudian memeluknya. Beliau sesenggukan diatas tubuh putrinya. Belum ada satu kata pun yang keluar. Letisha terus menunggu.
            Lama, Ibu berhenti menangis. Sambil masih menatap nanar kepada Letisha, beliau berkata pelan, “Ayahmu gugur, Nak.”
            Hanya itu. Letisha tak perlu penjelasan apa-apa lagi setelahnya. Ia tau saat ini akan tiba. Ayahnya –seseorang yang bukan dari anggota perang, melepaskan dirinya untuk menjadi relawan beberapa bulan lalu. Ibu dan Letisha sempat tak setuju, tapi beliau tetap bersikukuh untuk menjalaninya. Membela negara, katanya.
            Dan Letisha tak pernah menyangka saat itu benar-benar terjadi.
            Ayahnya gugur saat keluar dari tempat persembunyiaannya. Mencoba bermaksud melawan Israel, namun takdir membawanya pada arah lain.
            Seekor kupu-kupu putih hinggap pada tangan Letisha. Membuatnya tersadar dai lamunan dan segera menyeka air mata yang sejak tadi menari di pipinya. Ia merindukan ayah. Sosok yang selalu mendekapnya saat deru tembakan itu terdengar. Sosok yang ada disampingnya saat ia merasa takut. Sosok yang percaya bahwa Letisha akan menggapai bintangnya seperti bintang di atas pohon natal.
            Letisha merindukan Ayah.
            “Letisha, apakah kau sudah bangun?” Ibu mengetuk pintu kamar dengan pelan.
            Tanpa menjawab, Letisha segera beranjak dari tempatnya mengulang masa lalu tadi. Ia membukakan pintu untuk ibunya, “Selamat pagi, Bu.” Ucap Letisha sambil tersenyum dan mencium Ibu.
            “Pagi. Bagus jika kau sudah bangun. Ayo turun kebawah, bantu ibu membuat kue.”
            Letisha mengangguk dan mengikuti Ibu. Saat menjelang natal, keluarga Letisha selalu membuat kue jahe. Kue berbentuk boneka manusia yang terbuat dari adonan terigu dan sedikit jahe ini adalah kesukaan turun-temurun keluarganya. Kue ini seakan menjadi santapan wajib untuk lebih menghangatkan suasana natal.
            Letisha segera mengambil bahan-bahan yang diperlukan ibu untuk membuat kue jahenya. Sedang ibu terus mengocok adonan dengan telaten, Letisha memandangnya sejenak. Masih ada rindu pada nanar mata Ibu. Mungkin beliau masih belum terbiasa menjalankan hari-harinya tanpa ayah. Dulu, selama menjelang natal ayah selalu meliburkan diri dari kantor hanya untuk mempunyai waktu lebih lama dengan keluarganya. Ayah selalu membantu ibu dan Letisha untuk membuat kue jahe bersama-sama. Ayah selalu menghias pohon natal. Ayah selalu ada saat natal sebelum natal tahun ini menjelang.
            “Sha, tolong tambahkan jahenya lagi,” ibu kembali menyadarkan lamunan Letisha.
            Ia segera memenuhi permintaan ibunya. Kemudian berkata lirih, “ini tahun pertama ayah gak buat kue bareng kita bu.”
            Ibu menghentikan gerakannya. Menatap Letisha. Ia tahu, seorang anak pasti merindukan saat indah bersama ayahnya. Namun Ibu tak dapat berbuat apa-apa, selain mendekap erat putrinya. “sudahlah, Nak. Jangan terus mengungkit jika kau tak ingin terus merasa kehilangan. Ikhlaskan. Biarkan ayahmu bahagia dengan jalan yang telah mengantarkannya kembali pada Tuhan.”
            Letisha tak menggubris ucapan ibunya. Walaupun dalam hati ia harus membenarkan kata-kata beliau. Tapi ia merindukan Ayah. Jadi ia hanya merangkai sebuah doa dalam dekapan ibundanya.
            Tuhan, aku ingin kuat seperti Ibu. Yang tidak memperlihatkan rasa kehilangannya. Beri aku kekuatan itu, Tuhan. Meski lewat airmata yang sesekali membasahi wajah saat aku rindu Ayah.
            Letisha terus mendekap ibunya. Lebih erat.

Deret Kata untuk Anak-Anak Palestina

CINTA 
 
            Kesya lantas mematikan televisi yang sedari tadi berteriak tentang nasib anak-anak Palestina. Semakin lama ia semakin muak dengan tingkah laku tentara Israel –yang menurutnya sudah diluar akal sehat manusia. Bagaimana bisa? Dengan mudahnya orang-orang  jahat itu merenggut hak anak yang bahkan takkan pernah tau apa salah mereka sampai mereka tak bisa menikmati bahagia. Sehari-hari mereka hanya mendengar deru tembakan, suara-suara menyeramkan, dan berita kematian. Tak ada kegembiraan, yang ada hanya tangisan meraung-meraung meminta belas kasihan.
            Lebih parahnya lagi, dunia justru menutup telinga akan hal ini. Tak ada yang peduli. Jangankan untuk mengulurkan tangan mereka, untuk melihat bagaimana mirisnya negeri jajahan Yahudi ini saja, mereka tak mau.
            “Kak Kesya....” seseorang memanggilnya dari luar. Kesyatersadar dari lamunan, dan segera berjalan keluar.
            Di depan pintu kamarnya sudah berdiri Nesya, adiknya yang baru saja berusia 8 tahun, “kenapa Sya?”
            “Temenin aku main diluar yuk. Kita main di Negeri Hujan.” pinta Nesya, sambil menunjuk istana bonekanya di ruang tamu.
            “Boleh,” tanpa pikir panjang, Kesya menuruti permintaan adiknya. Negeri Hujan adalah salah satu dari sekian ribu negeri dongeng koleksi Nesya.
            “Kakak jadi Raja Hujannya. Aku jadi Putri Embunnya.” Nesya menjelaskan –sedang Kesya hanya mangut-mangut tanda mengerti. Setiap hujan turun, Nesya dan Kesya selalu bermain di Negeri Hujan.“Jadi nanti Raja Hujan marah sama rakyat. Soalnya rakyatnya itu....” Nesya terdiam lama. Bingung memikirkan alur apalagi yang harus ia buat. Akhir-akhir ini kotanya terus dilanda hujan, dan setiap hujan –ia dan kakaknya selalu bermain di Negeri Hujan dengan alur yang berbeda-beda.
            “Sambil nungguin penyebab Raja Hujan marah, gimana kalau kamu dengerin kakak cerita aja?” celetuk Kesya tiba-tiba.
            “Emang kakak mau cerita apa?”
            Sekarang giliran Kesya yang terdiam. Namun tak lama kemudian, ia mendapatkan sebuah ide berlian. Ia tak ingin anak-anak Palestina tak di dengar bahkan oleh adiknya sendiri. Adiknya harus tahu bagaimana nasib teman-temannya di luar sana.
            “Cerita tentang seorang anak yang nasibnya gak seberuntung kamu.”
            “Nasib itu apa?” sekarang Nesya duduk menghadap kakaknya. Matanya yang bening seolah memerlihatkan bahwa ia tertarik dengan cerita Kesya.
            “Nasib itu hidup. Di suatu negeri yang bernama Palestina, ada seorang anak yang bernama Maryam. Umurnya baru 6 tahun, lebih kecil daripada kamu. Dia punya seorang ayah yang pekerjaannya jadi tentara, dan seorang ibu yang sangat menyayanginya. Maryam gak pernah sedih selama hidupnya.”
            “Apa yang buat dia gak beruntung? Dia gak pernah sedih. Ayahnya juga tentara, dia pasti bangga punya ayah yang kemana-mana bawa pistol. Bisa nembak orang jahat,” Nesya menuturkan pendapatnya dengan polos.
            “Kakak belum selesai, Nesya. Ya memang sih ayahnya yang tentara bisa nembak orang jahat. Sampai suatu hari, waktu dia lagi main di taman, tiba-tiba ada suara yang begitu keras. Yang bisa bikin telinga kamu sakit kalau dengarnya,”
            “Suara apa itu kak?” Nesya mengubah posisi duduknya. Semakin bersemangat mendengar cerita anak yang bernama Maryam itu.
            “Suara bom. Bunyinya kayak petir, tapi ini di tanah, bukan di awan. Kamu bisa bayangin kan gimana kerasnya suara petir tapi di tanah?”
            “Aku tau kalau ada petir di awan itu berarti Raja Hujan lagi marah. Tapi kalau petir di tanah.......” Nesya menggantukan kalimatnya, kemudian bergidik ngeri. Membayangkan bagaimana nasibnya jika ketika itu dia sedang berada di taman bersama Maryam.
            Kesya tak menggubris celotehan adiknya, ia terus melanjutkan cerita, “Maryam dan semua temannya kaget waktu itu. Mereka mencoba menyelamatkan diri mereka masing-masing. Setelah suara keras itu tak terdengar lagi, Maryam pulang ke rumahnya. Tapiia lupa dimana letak rumahnya yang benar, karena semuanya udah rata sama tanah. Gak ada satupun yang tersisa,” Kesya menarik nafasnya dengan berat. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nasib perempuan kecil yang seharusnya mempunyai perlindungan, justru yang di dapat hanya kemalangan.
            “Rumahnya kena petir ya kak?” Nesya berceloteh lagi.
            Kesya hanya mengganggukkan kepalanya.
            “Kenapa dia gak minta ayahnya buat tembak orang jahat itu?”
            “Sya....kamu jangan komentar apa-apa dulu dong. Kakak belum selesai. Jadi kepotong-potong ceritanya,” kali ini Kesya menggelengkan kepalanya. Ia tak mengerti bagaimana bisa ia mempunyai seorang adik yang bawel sekali. Lama-lama ia berfikir bahwa ia telah salah langkah mengajak adiknya ini mendengar cerita.
            “Maaf deh. Abis aku penasaran kak.” Kata Nesya sambil menekuk bibirnya.
            “Dan pada hari itu juga, Maryam nangis buat yang pertama kali. Dia bingung. Sambil nangis, Maryam pergi mencari ibunya. Sampailah ia di ujung rumah yang dulunya dapur. Disamping kompor yang telah meledak, tergeletak seorang wanita. Mukanya hitam semua, kebakar,” walaupun ini hanya mengarang, Kesya ngeri sendiri.
            “Maryam gak bisa apa-apa. Dia cuma nangis sendirian. Berulang kali dia menggoyangkan tubuh ibunya, tapi hasilnya gak ada. Ibunya tetap gak bangun. Dari situ dia sadar kalau dia harus cari ayahnya,”
            “Jadi, Maryam meninggalkan ibunya dan berjalan keliling kota tak tentu arah. Semua kota sudah hangus terbakar, tak ada yang tersisa. Petir tanah tadi menghancurkan kota tinggal Maryam,” Kesya menghela nafasnya sejenak sebelum akhirnya kembali melanjutkan cerita.
            “Maryam terus mencari ayahnya. Berhari-hari ia berjalan menyusuri kota, teriknya udara Palestina tak menyurutkan semangatnya, tanpa ia sadar bahwa tak ada makanan yang mengisi perutnya. Dia kelaparan. Tapi dia tetap mau berjalan mencari ayahnya. Sampai suatu hari Maryam udah gak kuat nahan rasa laparnya. Dia memutuskan untuk beristirahat di sebuah toko dan tertidur disana. Lama sekali,”
            “Lama sekali?” Nesya yang sejak tadi hanyut dalam cerita, menuntut penjelasan kalimat terakhir kakaknya.
            “Ya. Dia tertidur disana berhari-hari dan gak terbangun lagi. Pemilik toko yang sengaja berkunjung ke tokonya melihat Maryam yang sudah tak bernyawa. Maryam meninggal karena kelaparan.” Miris, Kesya tak dapat membayangkan bagaimana nasib seorang Maryam.
            “Kasian Maryam. Harusnya aku bisa bantu dia, biar dia bisa cari ayahnya dan gak nangis lagi. Kakak terlambat cerita sih,” Nesya bersingut –kini menyalahkan kakaknya.
            “Gak ada yang terlambat di dunia ini, Nesya. Kamu bisa tetap bantu Maryam kok,” Kesya mengulum senyumnya sambil membelai lembut rambut Nesya.
            “Caranya?”
            “Dengan mengirimkan doa untuk Maryam yang sudah ada di surga sana.”
            Nesya terdiam cukup lama. Kemudian ia berdiri, mengambil sebuah buku tulis dari dalam tasnya dan merobek sisi tengahnya. Ditulisnya beberapa baris kalimat yang Kesya tak tau apa isinya. “Aku sekarang tau kenapa Raja Hujan marah sama rakyatnya,” kemudian Nesya berujar.
            “Kenapa?”
            “Karena rakyatnya gak mau peduli sama nasib orang-orang dari Negeri Tandus sana. Rakyat Negeri Hujan hanya mementingkan diri mereka sendiri. Tanpa sadar bahwa ada orang yang memerlukan bantuan mereka.”
            Kesya menganga. Alur yang sempurna! Dilukiskan oleh anak yang baru berusia 8 tahun. Ia bahkan tak menyangka bagaimana bisa adiknya mempunyai jiwa sosial yang begitu tinggi terhadap teman-temannya. Nesya tak menutup telinga untuk masalah teman-temannya. Di celotehannya yang polos barusan, Kesya tahu, adiknya bersedia mengulurkan kedua tangannya kapan saja.
            Nesya terus berceloteh tentang Negeri Hujan dan alur baru yang sedang di buatnya. Secara diam-diam Kesya melihat isi dari kertas yang tadi di robek Nesya, tertulis sebaris doa tulus disana;
Untuk Maryam,
Aku mungkin gak sempat bawain kamu makanan. Tapi sekarang aku minta sama Tuhan semoga kamu dan ayah ibumu bisa sama-sama lagi di surga.
Salam, Nesya.
            Kesya tersenyum. Bersyukur karena setidaknya ada anak Indonesia yang peduli bagaimana nasib anak-anak Palestina. Walaupun hanya 2 orang. Ia dan adiknya.

Selasa, 11 Desember 2012

Sepotong Senja Untuk Pacarku

oleh: Seno Gumira Ajidarma

Alina tercinta,

Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?
Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.
Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.
Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.
Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.
Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.
Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.
Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.
Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.
Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.
Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.
Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.
“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”
Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.
“Catat nomernya! Catat nomernya!”
Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.
Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.
“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”
Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.
Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.
“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”
Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.
Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.
Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.
Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.
“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.
Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.
“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”
Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.
Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.
Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.
Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.
“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”
Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….
Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.
Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.
Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…
Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.
Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.
Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.
Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.
Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.
–Cerpen Pililihan Kompas 1993

Senja dan Sajak Cinta


Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan. Cahaya emas berkilatan pada kaca jendela gedung-gedung bertingkat, bagai disapu kuas keindahan raksasa. Awan gemawan menyisih, seperti digerakkan tangan-tangan dewa.

Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerak jalanan yang mendadak berubah bagai tarian. Membias pada papan-papan reklame. Membias pada percik gerimis dari air mancur. Membias diantara keunguan mega-mega. 
Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, bagaikan gerak sang ruang, yang segera hilang. Cahaya kuning senja yang makin lama makin jingga menyiram jalanan, menyiran segenap perasaan yang merasa diri celaka. Mengapa tak berhenti sejenak dari upacara kehidupan?

Cahaya melesat-lesat, membias, dan membelai rambut seorang wanita yang melambai tertiup angin dan dari balik rambut itu mengertap cahaya anting-anting panjang yang tak terlalu gemerlapan dan tak terlalu menyilaukan sehingga bisa ditatap bagai menatap semacam keindahan yang segera hilang, seperti kebahagiaan.

Langit senja bermain di kaca-kaca mobil dan kaca-kaca etalase toko. Lampu-lampu jalanan menyala. Angin mengeras. Senja bermain diatas kampung-kampung. Diatas genting-genting. Diatas daun-daun. Mengendap ke jalanan. Mengendap ke comberan. Genangan air comberan yang tak pernah bergerak memperlihatkan langit senja yang sedang bermain.

Ada sisa layang-layang dilangit, bertarung dalam kekelaman. Ada yang sia-sia mencoba bercermin di kaca spion sepeda motornya. Ada musik dangdut yang mengentak dari warung. Babu-babu menggendong bayi di balik pagar. Langit makin jingga, makin ungu. Cahaya keemasan berubah jadi keremangan. Keremangan berubah jadi kegelapan. Bola matahari tenggelam di cakrawala, jauh, jauh diluar kota. Dan kota tinggal kekelaman yang riang dalam kegenitan cahaya listrik. Dan begitulah hari–hari berlalu.

Lampu-lampu kendaraan yang lalu-lalang membentuk untaian cahaya putih yang panjang dan cahaya merah yang juga panjang. Wajah anak-anak penjual Koran dan majalah di lampu merah pun menggelap. Mereka menawarkan Koran sore dan majalah ke tiap jendela mobil yang berhenti. Bintang-bintang mengintip dilangit yang bersih. Seorang wanita, entah dimana, menyapukan lipstik ke bibirnya.
Malam telah turun di Jakarta. Dimeja sebuah bar, yang agak terlalu tinggi, aku menulis sajak tentang cinta.

langit muram, kau pun tahu
angin menyapu musim, gerimis melintas
pada senja selintas, aku tak tahu
masihkah ketemu malamku

kamu adalah mimpi itu, siapa tahu
dalam jejak senyap semalam
menatap hujan,
tiada bertanya sedu atau sedan

Deret Kata

DERET KATA
beberapa deret kata ini ku tulis untuk mereka yang lupa caranya bahagia.


Senin malam. Ulangan akhir semester ganjil baru saja berakhir. Hari yang seharusnya membuatku senang bukan kepalang –tapi yang ku dapat hanya sebuah kepingan kelemahan. Lagi dan lagi, semuanya terus seperti ini. Mungkin kau bosan terus mendengarkan kesuh kesahku yang tak karuan, tapi inilah diriku. Seorang anak yang beranjak menjadi gadis, yang kehidupannya takkan pernah lepas dari kata rumit. Problematika semakin naik, kemudian memaksaku untuk terus mengetik beberapa deret kata ini.
Harus ku mulai darimana? Kau ingin aku ceritakan bagian yang mana? Baiklah, bagaimana jika soal cinta yang –kata orang dapat membuat hidup bahagia? saat-saat yang akan membawamu pada sebuah masa indah. Masa dimana kau lupa caranya menangis, yang kau tau hanya bagaimana caranya tersenyum di depan orang yang kau cintai. Siapapun. Orang tua, sahabat, atau mungkin pacarmu. Yang jelas, aku telah mempelajari satu; bagaimana cinta dapat membuat hidup bahagia.
Aku hanya mempelajari, bukan berarti aku mempraktekkannya –kemudian berhasil akan akhirnya. Aku tak mengenal cinta –sengaja tak mengenal cinta. Cinta adalah semu untukku, sesuatu yang seperti dirasakan, namun kenyataannya tak pernah kurasakan kehadirannya. Aku bahkan berpura-pura untuk melihat orang yang kucintai bahagia. ini sungguhan, bukan seperti kebanyakan novel yang hanya menceritakan tanpa ada realisasi yang benar. Aku mengalaminya dan hal ini terus membuatku ingin hilang dari dunia, sekarang.
Perasaan seperti ini terus timbul saat aku merasa sendiri. Merasa tak ada yang peduli. Merasa kehilangan sosokku yang dulu. Ah, masa lalu memang suatu waktu dimana kita hanya ingin berlalu.
Entah sampai kapan akan terus seperti ini. aku tak ingin memberontak. Sebisa mungkin aku menikamati hidupku. Karna hidup terlalu singkat untuk ku ratapi. Aku hanya ingin Tuhan memberikanku kekuatan lebih –lewat kata, senja, hujan, atau apapun yang dapat terus membuatku bertahan. Entah sampai kapan.


Senin, 10 Desember 2012
20:48
Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/tips-cara-supaya-artikel-blog-tidak.html#ixzz2NEfURgcc